INFOJAMBI.COM – Kepolisian Daerah Jambi bersama Pemerintah Provinsi Jambi menyelenggarakan Sosialisasi Akbar Pencegahan Paham Radikal dan Terorisme yang menyasar ribuan pelajar di lingkungan pendidikan.
Perhelatan besar ini berlangsung di Gedung Olah Raga Kota Baru, Kota Jambi, menghadirkan berbagai elemen penting dari dunia pendidikan dan keamanan, pada Kamis (7/5/2026).
Baca Juga: Security Hiburan Malam Rampas Identiitas Wartawan
Kegiatan ini mengusung tema strategis mengenai upaya generasi muda Jambi dalam merajut keberagaman, merawat persatuan, serta mengutamakan pendidikan demi keutuhan NKRI.
Sejumlah pejabat tinggi seperti Gubernur Al Haris, Kapolda Jambi Inspektur Jenderal Krisno Halomoan Siregar, dan Wakil Gubernur Abdullah Sani turut hadir memberikan arahan langsung kepada para siswa.
Baca Juga: Hidup Makin Susah, Ibu Rumahtangga Jual Shabu
Acara dibuka dengan rangkaian tarian penyambutan tradisional serta nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta.
Selain pemberian materi edukasi, agenda ini juga diisi dengan deklarasi bersama untuk melawan bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Baca Juga: Arab Saudi Dukung Indonesia Berantas Terorisme dan Radikalisme
Gubernur Jambi, Al Haris, menekankan pentingnya penguatan literasi digital agar para pelajar memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi.
Ia berharap institusi pendidikan dapat menjadi garda terdepan dalam membendung ideologi menyimpang setelah peran utama di lingkungan keluarga.
"Harapan saya kepada seluruh institusi pendidikan di Provinsi Jambi, formal maupun non formal agar dapat bersinergi dan meningkatkan komitmen ya menjadi benteng pertahanan pertama setelah keluarga, menjadi hulu dalam pencegahan penyebaran paham radikal dan terorisme pada generasi muda Provinsi Jambi," ucap Al Haris.
Kapolda Jambi, Krisno Halomoan Siregar, memberikan penekanan khusus mengenai pergeseran modus penyebaran paham radikal yang kini mulai merambah ruang-ruang digital.
Ia mengingatkan bahwa ancaman nyata saat ini justru berada sangat dekat dengan keseharian anak-anak melalui perangkat gawai mereka.
“Ancaman saat ini tidak lagi datang secara konvensional, namun sudah masuk melalui media digital, platform permainan online hingga media sosial yang dekat dengan keseharian anak-anak kita. Karena itu, pengawasan dan pembinaan dari keluarga, sekolah dan lingkungan sangat penting,” ujar Krisno tegas.
Krisno juga memaparkan data yang cukup mengejutkan mengenai adanya anak-anak yang telah terpapar paham radikal melalui aktivitas di dunia maya.
Kewaspadaan orang tua dan guru perlu ditingkatkan mengingat infiltrasi ideologi ini sudah menyentuh platform populer yang sering dimainkan anak-anak.
“Terdapat 116 anak yang terpapar paham radikal melalui media digital, bahkan tergabung dalam platform game online seperti Roblox. Ini menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap aktivitas digital generasi muda,” tegas Krisno di hadapan ribuan pelajar.
Selain masalah radikalisme, Krisno juga menyoroti munculnya fenomena True Crime Community (TCC) yang mulai mempengaruhi kondisi psikologis remaja.
Komunitas daring ini dinilai berbahaya karena sering kali mengedepankan konten kekerasan yang dapat merusak empati dan perilaku generasi muda.
Krisno menyebut bahwa sebagian besar remaja yang terjebak dalam komunitas negatif tersebut merupakan para korban perundungan atau bullying.
Ia mengajak seluruh pelajar SMA hingga SMP se-Kota Jambi untuk membangun sikap saling menghargai dan menghentikan segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal.
“Sebagian besar anak yang terindikasi masuk dalam komunitas tersebut merupakan korban bullying atau perundungan. Karena itu saya mengajak seluruh pelajar untuk membangun sikap toleransi, saling menghargai dan menjauhi segala bentuk perundungan,” ujarnya.
Untuk memberikan gambaran nyata, panitia menghadirkan materi dari berbagai narasumber kompeten, mulai dari akademisi Universitas Indonesia hingga UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak.
Hadir pula narasumber dari Densus 88 AT Polri serta influencer Debi Ceper yang memberikan perspektif berbeda bagi para peserta.
Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Jambi, Komisaris Besar Beri Diatra, menjelaskan secara teknis bagaimana paham radikal dapat mendoktrin suatu kelompok secara perlahan.
Ia memberikan edukasi tentang sejarah pembentukan aliran ekstremis seperti ISIS agar para pelajar dapat mengenali ciri-ciri penyimpangan tersebut sejak dini.
Momen paling menyita perhatian adalah kesaksian dari mantan narapidana terorisme (napiter) binaan Densus 88, Giovaniv Rafli.
Giovaniv menceritakan pengalamannya saat mulai terkontaminasi paham IRET dan fenomena TCC melalui kegiatan-kegiatan negatif seperti balapan liar.
"Peredaran pemahaman dari IRET dan TCC maupun perundungan berawal dari kegiatan yang halal disimpangkan menjadi kegiatan yang haram, sehingga mengakibatkan perbuatan menyimpanag dengan norma-norma agama dan undang-unfanha yang berlaku ni NKRI," ucap Giovaniv.
Eks napiter tersebut berharap agar generasi muda saat ini tidak mudah tertipu oleh konten-konten provokatif yang tersebar masif di media sosial.
Giovaniv memperingatkan bahwa pengaruh digital tersebut memiliki dampak buruk yang nyata hingga bisa menyeret seseorang masuk ke jaringan terorisme global.
Acara ditutup dengan deklarasi akbar yang diikuti oleh ribuan pelajar untuk menolak segala bentuk paham intoleransi dan kekerasan di sekolah.
Seruan "NKRI Harga Mati" menggema di dalam GOR sebagai simbol persatuan generasi penerus bangsa di Provinsi Jambi.
Kabid Humas Polda Jambi, Komisaris Besar Erlan Munaji menambahkan, kegiatan ini adalah bentuk komitmen Polri menjaga integritas generasi muda.
Penguatan karakter dan nilai kebangsaan menjadi benteng paling ampuh dalam menghadapi propaganda negatif di ruang digital.
“Kapolda Jambi menegaskan bahwa upaya pencegahan radikalisme dan terorisme harus dimulai sejak dini melalui edukasi, penguatan karakter, literasi digital serta pengawasan bersama antara keluarga, sekolah dan pemerintah. Generasi muda harus dibentengi dengan nilai kebangsaan, toleransi dan semangat persatuan agar tidak mudah terpengaruh propaganda maupun konten negatif di media sosial,” pungkas Erlan. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com