Dari Gambut ke Pendanaan Hijau : Jambi Dorong Jasa Lingkungan Menjadi Mesin Baru Pembangunan Berkelanjutan.

Dari Gambut ke Pendanaan Hijau : Jambi Dorong Jasa Lingkungan Menjadi Mesin Baru Pembangunan Berkelanjutan.

Reporter: PM | Editor: Admin
Dari Gambut ke Pendanaan Hijau : Jambi Dorong Jasa Lingkungan Menjadi Mesin Baru Pembangunan Berkelanjutan.
Bimbingan Teknis Pengembangan Jasa Lingkungan Berbasis Ekosistem Gambut || dok ard

INFOJAMBI.COM - Selama ini, ekosistem gambut lebih sering dibicarakan dari perspektif perlindungan: bagaimana mencegah kebakaran, menjaga tata air, mengurangi emisi, dan mempertahankan tutupan vegetasi. Namun, pertanyaan yang semakin penting kini adalah: 

"Bagaimana menjaga gambut sekaligus membuat masyarakat dan daerah mendapatkan manfaat ekonomi dari ekosistem yang tetap lestari?" Ujar Dr. Fakhrizal Nashr dari School of Government and Public Policy (SGPP) Jakarta.

Baca Juga: Desa di Sekitar Lahan Gambut di Muaro Jambi Dapat Bantuan Rp 200 Juta dari Pemerintah Pusat

Menurut Fachrizal, pertanyaan inilah yang menjadi salah satu semangat utama dalam Bimbingan Teknis Pengembangan Jasa Lingkungan Berbasis Ekosistem Gambut untuk Mendukung Pendanaan Hijau dan Penguatan Kebijakan Daerah, yang dilaksanakan pada 19-20 Agustus 2026 di Yello Hotel Kota Jambi. 

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi, Arif Munandar, kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, masyarakat, kelompok pengelola, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membangun pemahaman bahwa gambut bukan hanya kawasan yang harus dilindungi, tetapi juga memiliki berbagai jasa lingkungan yang dapat menjadi bagian dari  solusi pembangunan daerah sepanjang dikembangkan dengan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan.

Baca Juga: Buka Bimtek RKM  TK-PPEG, DLH Provinsi Jambi  Berharap Desa di Jambi Jadi Percontohan Untuk Bersaing dengan Provinsi Lain.

Kegiatan ini didukung oleh Proyek GEF-6 Integrated Management of Peatland Landscapes in Indonesia ( IMPLI), melalui International Fund for Agricultural Development (IFAD), bersama Kementerian Lingkungan Hidup melalui Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (Dit. PPEG). 

Dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pengelolaan ekosistem gambut secara terpadu dan berkelanjutan, termasuk peningkatan  kapasitas para pemangku kepentingan, penguatan kebijakan daerah, pengembangan jasa ekosistem, serta peningkatan manfaat dan mata pencaharian masyarakat di wilayah gambut. 

Baca Juga: RPPEG Kabupaten Tanjab Timur, Legacy Pertama Dillah Hich Sebagai Bupati..?

Secara resmi, dokumen kinerja pemerintah menyebut IMPLI sebagai proyek yang didanai GEF-6 melalui IFAD, dengan tujuan antara lain mengembalikan fungsi ekosistem gambut, mengurangi emisi GRK, memperkuat pengelolaan KHG secara terintegrasi, serta mempromosikan teknologi inovatif dan pemasaran produk dari ekosistem gambut.

Jasa Lingkungan Harus Naik Kelas : Dari Isu Lingkungan Menjadi Isu Pembangunan.

Pengembangan jasa lingkungan tidak dapat lagi ditempatkan hanya sebagai isu sektoral lingkungan hidup. Fungsi ekosistem gambut memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan air, pengendalian risiko kebakaran, penyimpanan karbon, biodiversitas, ketahanan ekonomi masyarakat, pengembangan usaha, pariwisata berbasis alam, hingga peluang pembiayaan pembangunan hijau. 

Karena itu, keterlibatan banyak perangkat daerah dalam kegiatan ini menjadi sangat penting. Jasa lingkungan membutuhkan pemerintah yang bekerja lintas sektor.

Menurut Penanggung Jawab IMPLI Provinsi Jambi, Dr. Asnelly Ridha Daulay, Dinas Lingkungan Hidup tidak mungkin bekerja sendiri. Perencanaan pembangunan, tata ruang, pertanian, kehutanan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, perekonomian, keuangan daerah, hingga pemerintah desa memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kewenangannya. 

" Dengan pendekatan tersebut, jasa lingkungan diharapkan tidak berhenti sebagai konsep dalam forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program, kebijakan, model usaha, dan sumber pembiayaan yang nyata." Jelas Asnelly yang juga Kabid PPKL Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi itu. 

Gambut Memiliki Nilai yang Jauh Lebih Besar Daripada yang Terlihat

Ditambahkan Fachrizal, satu kawasan gambut yang terjaga sesungguhnya memberikan berbagai manfaat sekaligus. Ia menyimpan karbon. Ia mengatur tata air. Ia menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna. Ia mengurangi risiko bencana ekologis ketika dikelola dengan baik. Ia menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan mata pencaharian yang sesuai dengan karakter ekosistem. Dan dalam kondisi tertentu, Fungsi-fungsi tersebut dapat menjadi dasar pengembangan jasa lingkungan dan mekanisme pembiayaan berkelanjutan. 

Namun demikian, terdapat satu prinsip yang tidak boleh dilupakan: Tidak semua manfaat ekosistem harus dan dapat langsung dimonetisasi. Monetisasi bukan tujuan akhir. Nilai ekonomi hanyalah salah satu instrumen untuk membuat manfaat ekosistem yang selama ini sering "tidak terlihat" menjadi lebih diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan. Karena itu, nilai ekonomi harus berjalan bersama dengan nilai ekologis dan nilai sosial.

Dari Business Model Canvas Hingga Pendanaan Hijau

Fachrizal optimis bahwa salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah bagaimana potensi jasa lingkungan dapat diterjemahkan menjadi sebuah model bisnis yang realistis dan berkelanjutan. Peserta tidak hanya diajak bertanya: "Apa potensi yang kita punya?"

Tetapi juga:

Siapa yang membutuhkan jasa tersebut? 

Siapa yang memperoleh manfaat?

Nilai apa yang ditawarkan?

Siapa yang harus terlibat?-

Bagaimana kelembagaannya?

Berapa biaya pengelolaannya?

Dari mana sumber pendanaannya?

Bagaimana manfaat dibagi?

Bagaimana keberlanjutan ekologisnya dijamin?

Dan bagaimana pemerintah daerah dapat memasukkannya ke dalam kebijakan pembangunan?

Pendekatan tersebut menjadi penting karena banyak inisiatif lingkungan berhenti pada tahap "potensi", tetapi belum mampu menjawab pertanyaan "bagaimana membiayai dan mempertahankannya?"

Di sinilah konsep pendanaan hijau menjadi relevan.

Program lingkungan harus mulai mampu menunjukkan bukan hanya apa yang akan dilakukan, tetapi juga dampak apa yang dihasilkan, bagaimana dampak tersebut diukur, siapa yang memperoleh manfaat, dan bagaimana keberlanjutan pembiayaannya.

OPD Bukan Hanya Pelaksana, Tetapi Pengerak Perubahan

Kehadiran banyak peserta dari perangkat daerah dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Justru  sebaliknya. Jika jasa lingkungan ingin benar-benar berkembang di Jambi, isu ini harus masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan pembangunan. OPD perlu memiliki pemahaman yang sama bahwa menjaga lingkungan bukan berarti menghambat pembangunan. Sebaliknya: 

Pembangunan yang mampu menjaga fungsi ekosistem justru memiliki peluang lebih besar | untuk bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, setiap perangkat daerah diharapkan mulai melihat peluang bagaimana fungsi ekosistem dapat memperkuat sektor masing-masing. Pertanian membutuhkan tata air yang baik. Pariwisata membutuhkan lanskap yang sehat. 

Perekonomian membutuhkan sumber daya yang berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan. sumber penghidupan. Pemerintah membutuhkan kebijakan pembangunan yang memiliki daya tahan terhadap risiko lingkungan. Semuanya bertemu pada satu titik: ekosistem yang sehat. 

Dari Bimtek Menuju Aksi

Kegiatan ini tidak dimaksudkan berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah kegiatan berakhir. Setiap peserta diharapkan mampu membawa pulang satu gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Mulai dari mengidentifikasi potensi jasa lingkungan di wilayah kerja, memperkuat kelembagaan, membangun kolaborasi lintas sektor, menyusun model bisnis, mengidentifikasi sumber  pendanaan, hingga merumuskan rekomendasi kebijakan daerah. Dengan demikian, ukuran keberhasilan Bimtek bukan hanya:

"Berapa orang yang hadir?" Tetapi: "Berapa banyak gagasan yang berubah menjadi aksi?" 

Jambi Memiliki Peluang Besar

Jambi memiliki ekosistem gambut yang luas dan beragam, sekaligus masyarakat yang hidup berdampingan dengan lanskap tersebut. Tantangannya adalah bagaimana mengubah hubungan tersebut menjadi hubungan yang lebih berkelanjutan: masyarakat mendapatkan manfaat, daerah mendapatkan nilai tambah, sementara ekosistem tetap terjaga.

Inilah paradigma yang perlu terus dibangun.

Bukan: "Gambut atau ekonomi."

Tetapi: "Gambut yang sehat untuk ekonomi yang berkelanjutan."

Bukan: "Konservasi atau pembangunan."

Tetapi: "Konservasi sebagai fondasi pembangunan."

Dan bukan: "Lingkungan sebagai beban anggaran."

Tetapi: "Lingkungan sebagai aset pembangunan dan investasi masa depan."

Saatnya Bergerak dari Wacana ke Implementasi

Bimbingan teknis ini menjadi salah satu langkah untuk membangun cara pandang baru tersebut. Namun, forum dua hari tidak akan cukup untuk mengubah sistem. Dibutuhkan kebijakan yang konsisten, kelembagaan yang kuat, kolaborasi lintas sektor, kapasitas masyarakat, dukungan dunia usaha, inovasi pembiayaan, serta komitmen pemerintah daerah. 

Karena pada akhirnya, jasa lingkungan bukan sekadar tentang bagaimana kita menghitung nilai alam. Lebih jauh dari itu, jasa lingkungan adalah tentang bagaimana kita menghargai alam | dalam setiap keputusan pembangunan. Dan ketika fungsi alam mulai dihargai dalam kebijakan, ekonomi, dan investasi, maka menjaga gambut tidak lagi dipandang sebagai biaya. Menjaga gambut adalah investasi untuk masa depan Jambi.

Untuk memperkuat substansi kegiatan, Bimtek menghadirkan narasumber dengan latar belakang pemerintahan, akademisi, kebijakan publik, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan model bisnis, diantaranya Prof. Dr. Ir. Aswandi, M.Si - Ketua Pusat Hidrologi dan PDAS  LPPM Universitas Jambi dan Prof. Dr. Ir. Rosyani, M.S, Koordinator Pusat Studi Lingkungan Hidup, Universitas Jambi ****

 

 

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya