Jejak Sahabat, Jurnalis, Aktivis dan Atlet Domino

KABAR itu datang mengejutkan. Lewat grup WhatsApp, Muhammad Idris Siregar meninggal dunia, di Rumah Sakit Kambang, Kota Jambi, Kamis malam.

Reporter: - | Editor: Admin
Jejak Sahabat, Jurnalis, Aktivis dan Atlet Domino
Pertemuan terakhir dengan Muhammad Idris Siregar (kiri) | foto : kak wili

Oleh: Doddi Irawan | Jurnalis tinggal di Jambi

KABAR itu datang mengejutkan. Lewat grup WhatsApp, Muhammad Idris Siregar meninggal dunia, di Rumah Sakit Kambang, Kota Jambi, Kamis malam, 7 Mei 2026, sekitar jam 21.50 WIB.

Menerima info itu, rasanya seperti mimpi. Sehari sebelumnya, Rabu 6 Mei 2026, kami masih duduk berdua di Sate Eddy Mayang, tempat biasa kami nongkrong. Tak pernah saya sangka, itulah pertemuan terakhir kami.

Tanggal 7 Mei 2026 menjadi hari yang tak akan pernah saya lupakan. Di tanggal itu, usia saya genap 54 tahun, dan di tanggal yang sama Idris berpulang. Sebuah kenangan yang akan terus melekat.

Idris lahir 8 April 1981. Saya tahu karena hari Rabu itu dia minta tolong membuka PDF laporan transaksi Bank Mandiri miliknya. Biasanya, PIN laporan transaksi bank sesuai tanggal lahir di KTP. Dari hal kecil itu, saya jadi tahu detail hidupnya.

Kami memang sudah lama kenal, tapi baru benar-benar akrab setahun belakangan. Nongkrong jadi rutinitas. Diskusi soal jurnalis, media online, dan akhirnya berkembang ke obrolan soal saham

Idris yang awalnya ingin uang tabungannya berkembang, justru sering mengajari saya membaca pergerakan harga saham. Padahal, kami sama-sama masih belajar. Itu yang bikin lucu, sekaligus hangat.

Kedekatan kami sederhana saja. Cuma kirim foto posisi masing-masing, lalu langsung meluncur. Tak banyak kata. Tak perlu dipanggil atau diajak.

Terakhir kali bertemu, hari Rabu itu, ia bercerita rencananya membeli rumah di Mayang Ujung, Kota Jambi. DP Rp1 juta sudah dibayar. Cicilannya Rp1,3 juta per bulan selama 15 tahun. Semangatnya jelas, ingin memberikan rumah untuk istri dan anak-anaknya.

Namun takdir berkata lain. Idris wafat. Ia meninggalkan seorang istri, seorang putra yang sedang kuliah, dan seorang putri yang masih sekolah di SMA. Jenazahnya dimakamkan di Desa Danau Buluh, Tanjung Gedang, Kabupaten Bungo.

Kepergian Idris bukan hanya sekadar kehilangan bagi saya, tapi juga dunia jurnalistik, aktivis, dan olahraga domino di Jambi. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai aktivis, jurnalis, fotografer, dan atlet domino Jambi.

Ia baru saja beberapa pekan pulang dari Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Bersama atlet lainnya, tim domino Jambi membawa pulang tropi juara 2 Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Domino —sebuah prestasi yang membanggakan komunitas domino Jambi.

Kabar wafatnya Idris juga diterima sejumlah tokoh. Sewaktu jenazahnya masih berada di IGD Rumah Sakit Kambang, tampak hadir anggota DPR RI Cek Endra, Tokoh Pers Jambi Mursyid Sonsang, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, jurnalis, dan puluhan aktivis.

Kehadiran mereka jadi bukti bahwa Idris adalah sosok yang dikenal luas, dihormati, dan dicintai.

Bagi saya pribadi, Idris bukan sekadar teman nongkrong. Ia adalah pengingat bahwa hidup ini singkat. Setiap pertemuan bisa jadi yang terakhir.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahnya, menempatkannya di tempat terbaik, dan memberi ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Selamat jalan, Idris. Terima kasih atas tawa, cerita, dan semangatmu…

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya