INFOJAMBI.COM — Asap hitam membumbung dari badan kapal MT Nurhasanah Lima. Kapal itu sedang berlabuh di perairan Teluk Majelis, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Rabu (23/9/2026).
Sebelumnya, ledakan terdengar dari bagian kamar mesin. Cuma hitungan detik, api membesar dan melahap badan kapal yang menunggu giliran memuat kondensat di Dermaga Samudra Muara Sabak.
Baca Juga: Kapal Terbakar di Kuala Kampung Laut
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB. Kapal berada pada koordinat 01°4'4"S - 103°48'40"E saat insiden terjadi.
Di perairan yang relatif tenang, situasi mendadak berubah menjadi kepanikan. Para kru yang berada di atas kapal bergerak cepat menyelamatkan diri, ketika kobaran api muncul dari area mesin.
Baca Juga: Kapal Pengangkut Minyak Terbakar Saat Memuat BBM
MT Nurhasanah Lima adalah milik PT Dania Shiping Line. Saat kejadian, kapal dalam kondisi kosong dan sedang berlabuh jangkar menunggu proses pemuatan.
Di atas kapal tersebut terdapat 16 anak buah kapal (ABK) yang dipimpin nakhoda, Aryanus Patangloan.
Baca Juga: Kapal Minyak Terbakar di Kunangan, Begini Kronologinya…
Hari itu, sejatinya berlangsung seperti hari kerja biasa di atas kapal. Sebagian kru menjalankan tugas masing-masing. Di bagian mesin, sejumlah awak kapal tengah melakukan pekerjaan perbaikan.
Namun pekerjaan rutin itu berubah menjadi mimpi buruk. Saat kru mesin melakukan perbaikan, tiba-tiba terjadi ledakan di kamar mesin.
Ledakan itu memicu kebakaran dan menyebabkan sejumlah kru mengalami luka bakar. Kepanikan menyebar ke seluruh bagian kapal. Para awak berusaha menyelamatkan diri.
Mereka juga berusaha membantu rekan-rekannya yang menjadi korban. Di tengah kondisi darurat, lima kru mengalami luka bakar akibat berada paling dekat dengan sumber ledakan.
Korban luka adalah Jarwanto menjabat Kepala Kamar Mesin (KKM), Jepri Gultom sebagai Masinis 2, Jurairi Jahri sebagai Oiler 1, Erwin Ali sebagai Oiler 2, dan M Akmal yang bertugas sebagai Engine Cadet.
Kelima korban langsung dievakuasi menuju Desa Teluk Majelis, untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum dibawa menjalani perawatan lebih lanjut.
Sementara itu, 11 awak kapal lainnya berhasil menyelamatkan diri. Mereka dievakuasi ke tepian Panduan Teluk Majelis dalam kondisi selamat.
Di atas kapal yang terbakar, terdapat berbagai posisi kerja yang saling menopang operasional pelayaran. Selain nakhoda Aryanus Patangloan, awak kapal terdiri atas Jonny Prendi Sihotang sebagai Mualim 1, Neti Febriana sebagai Mualim 2, Moh. Ramadana sebagai Masinis 3, Muh. Safrillah sebagai Bosun, Bahril, Muh. Zaini, dan Safaruddin sebagai AB, Dimas Rizki Fauzi sebagai Cadet Deck, Johan Afandi sebagai koki, serta kru lainnya yang bertugas menjaga operasional kapal.
Masing-masing ABK memiliki peran berbeda. Namun, ketika ledakan terjadi, seluruh awak menghadapi ancaman yang sama.
Peristiwa itu langsung mendapat respons dari berbagai instansi. Personel Direktorat Polairud Polda Jambi dari Pos Kampung Laut bergerak menuju lokasi.
Penanganan juga melibatkan Polairud Polres Tanjung Jabung Timur, TNI AL, KSOP Sabak, serta para nelayan yang berada di sekitar perairan Teluk Majelis.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap keselamatan awak kapal dan upaya pengamanan lokasi kejadian.
Di kawasan perairan yang menjadi jalur aktivitas pelayaran itu, koordinasi menjadi faktor penting. Evakuasi korban luka, penyelamatan awak kapal, dan penanganan kebakaran dilakukan bersamaan.
Sementara itu, penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan. Berdasarkan kronologi awal, ledakan terjadi ketika kru mesin sedang melakukan perbaikan di area kamar mesin.
Hingga beberapa jam setelah kejadian, perhatian tertuju pada 5 korban luka. Mereka dirawat di Puskesmas Kampung Laut, untuk menangani luka yang dialami akibat ledakan dan kobaran api.
Di balik peristiwa tersebut, tersimpan kisah para pekerja yang sehari-hari menjalankan tugas di tengah laut. Mereka berlayar jauh dari keluarga, menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di atas kapal, dan menghadapi berbagai risiko yang tidak selalu terlihat dari daratan.
Kebakaran MT Nurhasanah Lima menjadi pengingat bahwa aktivitas pelayaran tidak sepenuhnya lepas dari potensi bahaya. Di tengah lalu lintas kapal dan aktivitas bongkar muat, aspek keselamatan tidak bisa ditawar. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com