Perang AS – Iran Ancam Ekonomi Dunia, Dampaknya Bisa Hantam Dapur Rumah Tangga Indonesia

Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global berskala besar apabila konflik berkepanjangan.

Reporter: DOD | Editor: Admin
Perang AS – Iran Ancam Ekonomi Dunia, Dampaknya Bisa Hantam Dapur Rumah Tangga Indonesia
Dr. Noviardi Ferzi

INFOJAMBI.COM - Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu guncangan ekonomi global berskala besar apabila konflik berkepanjangan dan mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi dalam analisisnya Geo Politik Ekonomi Global bagi Rumah Tangga Indonesia, Senin, 2 Maret 2026 mengatakan, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. 

Baca Juga: AS Tuduh Rusia Campuri Pemilu, Pejabat Rusia Sindir AS Tentang Saddam Hussein

Jika distribusi terganggu, harga minyak mentah global dapat melonjak ke kisaran US$100–150 per barel.

“Kalau minyak tembus US$120 per barel, efeknya bukan hanya psikologis. Inflasi global bisa terdorong naik 0,6 sampai 1,2 persen dan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi terpangkas 0,5 hingga 1 persen,” ujarnya.

Baca Juga: Pelantikan Presiden Baru AS Diwarnai Demonstrasi

Ia menjelaskan, lonjakan harga energi akan menekan rantai pasok global, memperlemah permintaan, dan memicu kepanikan pasar keuangan. 

Indeks volatilitas global berpotensi melonjak, investor beralih ke dolar AS dan emas, sementara pasar saham di negara berkembang rentan terkoreksi dalam.

Baca Juga: Bela Dua Muslimah, Dua Pria Amerika Ini Tewas Ditikam

Bagi Indonesia, dampaknya disebut Noviardi akan terasa cepat, terutama pada harga bahan bakar minyak (BBM). Formula harga BBM nasional yang mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP) dan nilai tukar rupiah membuat harga domestik sensitif terhadap lonjakan global.

“Jika harga minyak bertahan di atas US$120 dan rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS, maka Pertalite berpotensi naik Rp1.500 sampai Rp2.000 per liter, atau sekitar 15–25 persen,” jelasnya.

Kenaikan itu, lanjutnya, akan memicu tekanan pada APBN. Pemerintah kemungkinan harus menambah subsidi energi hingga Rp100–200 triliun untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi, meski pemerintah menyatakan anggaran masih cukup hingga akhir 2026.

Selain itu Noviardi menegaskan, efek terbesar akan terasa pada sektor pangan karena biaya logistik menyumbang 20–30 persen dari harga akhir komoditas.

“Kalau BBM naik, beras medium yang sekarang di kisaran Rp14.000 per kilogram bisa naik 5–10 persen. Cabai bisa melonjak 10–15 persen, sayuran 8–12 persen. Komoditas impor seperti gula dan kedelai bahkan bisa naik 10–20 persen karena rupiah tertekan,” katanya.

Ia memperkirakan tekanan tersebut dapat menambah 0,5–1 persen inflasi volatile food, sehingga inflasi tahunan berpotensi bergerak ke 4–5 persen secara year-on-year.

Terkait risiko Fiskal dan Moneter Noviardi mengatakan pemerintah kemungkinan merespons dengan memperluas bantuan langsung tunai (BLT) BBM, subsidi silang LPG, operasi pasar, serta percepatan impor beras 2–3 juta ton untuk menjaga pasokan.

Namun di sisi moneter, tekanan inflasi dan pelemahan rupiah dapat memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25–100 basis poin untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.

“Kenaikan suku bunga memang perlu untuk meredam inflasi inti di kisaran 3,5–4,5 persen, tetapi konsekuensinya adalah kredit melambat dan daya beli masyarakat makin tertekan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kelompok rumah tangga miskin dan rentan akan menjadi pihak paling terdampak. Daya beli mereka bisa turun 5–12 persen akibat kombinasi kenaikan harga energi dan pangan.

Secara global, Noviardi memperkirakan peluang ekonomi yang hilang akibat konflik berkepanjangan bisa mencapai US$2–3 triliun. Negara-negara pengimpor energi seperti China, India, dan Indonesia akan menghadapi tekanan defisit perdagangan yang melebar.

“Iran sendiri bisa kehilangan pendapatan minyak ratusan miliar dolar dan menghadapi inflasi ekstrem, sementara negara di kawasan konflik juga berisiko mengalami kontraksi ekonomi kuartalan,” jelasnya.

Noviardi menegaskan bahwa stabilitas geopolitik menjadi faktor kunci menjaga pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.

“Ekonomi dunia saat ini belum sepenuhnya pulih dari tekanan pandemi dan perlambatan global. Konflik energi skala besar akan menjadi ujian serius bagi stabilitas fiskal, moneter, dan sosial di banyak negara, termasuk Indonesia,” pungkasnya. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya