INFOJAMBI.COM — Gubernur Jambi, Al Haris, mengajak seluruh elemen mahasiswa di Universitas Jambi (Unja) turun tangan langsung mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peran aktif kaum intelektual muda ini sangat dibutuhkan, terutama dalam menjaga kelestarian ekosistem lahan gambut di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
Baca Juga: Haris - Khafid Semarakkan Puncak HKN ke-52
Seruan tersebut dilontarkan Al Haris saat hadir sebagai pembicara kunci kuliah umum yang mengupas mitigasi karhutla pada ekosistem gambut. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan di Gedung Unifac Universitas Jambi, Rabu (10/6/2026).
Kuliah umum dibuka oleh Rektor Universitas Jambi, Prof Helmi. Podium pemateri juga diisi oleh Kapolda Jambi, Irjen Pol Krisno Halomoan Siregar, dan Danrem 042/Gapu, Brigjen TNI Nyamin.
Baca Juga: Pemprov Diminta Cepat Perbaiki Jalan Putus Depan Kodim
Dalam pemaparannya, Al Haris menyayangkan adanya stigma penanganan kebakaran lahan terkesan hanya menjadi beban sekelompok pihak saja.
Selama ini, urusan krusial tersebut seolah bertumpu pada Satgas Karhutla, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, dan pemerintah daerah.
Baca Juga: Al Haris Lantik Pengurus HMPM Padang
"Selama ini kita merasakan agenda pencegahan karhutla seolah-olah hanya dilakukan pihak tertentu. Padahal ada anak-anak kita, para mahasiswa juga terlibat langsung di masyarakat," kata Al Haris.
Basis massa mahasiswa Unja mempunyai kapasitas besar untuk mengedukasi warga di tingkat tapak. Kesempatan terbuka lebar saat mahasiswa mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), praktik kerja lapangan, maupun ketika pulang ke kampung halaman.
Kesiapsiagaan personel di lapangan tidak akan pernah cukup, jika tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat. Penyadartahuan sejak dini menjadi kunci utama, agar potensi titik api tidak muncul dari aktivitas pembukaan lahan.
"Yang paling susah itu mengajak masyarakat sadar tentang bahaya kebakaran hutan. Masih banyak yang belum sadar dampak ekologis luar biasa dari karhutla," ujar Al Haris.
Al Haris menjabarkan secara rinci dampak buruk yang ditimbulkan kabut asap hasil kebakaran berantai. Kabut pekat terbukti memicu penyakit ISPA, menghentikan aktivitas belajar mengajar di sekolah, hingga melumpuhkan urusan transportasi.
"Bayangkan, tiga bulan bandara kita tidak aktif pada tahun 2015 dan 2019. Belum lagi kesehatan masyarakat terganggu, sekolah dihentikan sementara, dan transportasi terganggu," katanya.
Di samping itu, kelestarian lahan basah juga mendapat perhatian khusus. Lahan gambut ditekankan bukan kawasan tidak berguna, melainkan area vital penyerap karbon global sekaligus penyangga stabilitas ekosistem.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya memproduksi modul khusus bertema hutan gambut untuk jenjang SMA dan SMK. Kebijakan ini diambil demi menumbuhkan rasa kepedulian terhadap lingkungan hidup pada generasi muda sejak dini.
"Kenapa gambut penting? Karena itu penyumbang karbon untuk kita semua. Maka pemahaman tentang gambut harus dimiliki juga oleh anak-anak sekolah," jelas Al Haris.
Melalui forum ilmiah ini, Al Haris berharap terjadi penyamaan visi yang solid antara birokrasi, akademisi, mahasiswa, dan komunitas lokal. Penyatuan persepsi diharapkan mampu memutus mata rantai bencana tahunan siber di Jambi.
Ongkos pencegahan jauh lebih murah dan efisien dibanding memadamkan api yang terlanjur menjalar luas. Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman menjadi sangat sulit, karena bara api tersembunyi di bawah permukaan tanah yang susah dijangkau.
"Kalau sudah terjadi kebakaran, luar biasa sulit memulihkannya. Kadang-kadang berhari-hari api di gambut baru bisa dipadamkan. Jangkauannya jauh, SDM terbatas, alat juga terbatas," ujar Al Haris.
Kendati demikian, pemerintah daerah menegaskan tidak melarang warga membuka sektor pertanian baru. Kebijakan yang dilarang keras secara hukum adalah melakukan pembersihan atau pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Solusinya, Pemprov Jambi saat ini memfasilitasi program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) untuk membantu para petani. Melalui program ini, kelompok tani dapat mengakses bantuan alat berat eskavator hingga pasokan bibit tanaman gratis.
"Pemerintah tidak melarang masyarakat bertanam. Yang tidak boleh itu membakar. Karena itu, ada program PLTB, bahkan kami bantu juga bibit untuk petani," ungkap Al Haris.
Setelah menutup sesi materi, Al Haris melayangkan apresiasi tinggi atas inisiatif cerdas pihak rektorat Unja. Kehadiran ribuan mahasiswa dinilai bisa menjadi jembatan komunikasi yang efektif dalam mendiseminasikan regulasi pemerintah.
"Mahasiswa ini KKN ke desa-desa. Mereka bisa sosialisasi ke masyarakat. Paling tidak di kampung halamannya, mereka mengerti arti penting mencegah kebakaran hutan dan lahan," ucapnya.
Al Haris berharap gerakan masif ini mampu melahirkan komitmen kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Budaya mitigasi bencana yang kokoh diyakini akan menjauhkan Provinsi Jambi dari ancaman kabut asap di masa depan.
"Kita lebih memilih mencegah daripada bertindak ketika api sudah terjadi. Dengan sosialisasi yang masif dan keterlibatan mahasiswa, kita percaya pola mitigasi dan pencegahan di masyarakat semakin kuat," pungkasnya. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com