Bambu Jadi Tameng Gambut, Jambi Siapkan Jurus Baru Cegah Karhutla

Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo memaparkan pemanfaatan tanaman bambu untuk mengantisipasi karhutla | foto : erit sutriedi

Reporter: SW | Editor: Admin
Bambu Jadi Tameng Gambut, Jambi Siapkan Jurus Baru Cegah Karhutla
Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo memaparkan pemanfaatan tanaman bambu untuk mengantisipasi karhutla | foto : erit sutriedi

INFOJAMBI.COM — Di hamparan lahan gambut yang selama bertahun-tahun akrab dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan, sebuah gagasan sederhana kembali mengemuka. 

Bukan teknologi canggih atau peralatan mahal. Melainkan bambu, tanaman yang selama ini tumbuh akrab di tengah kehidupan masyarakat, kini dipandang sebagai salah satu benteng alami untuk mengurangi risiko karhutla.

Baca Juga: Haris - Khafid Semarakkan Puncak HKN ke-52

Gagasan itu mengemuka dalam pemaparan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lahan gambut, di PT Wirakarya Sakti (WKS) Distrik VII, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Senin (21/9/2026).

Hadir Gubernur Jambi Al Haris, Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin, Bupati Tanjung Jabung Timur Dillah Hikmah Sari, serta Manager Distrik VII PT WKS Kurniawan. 

Baca Juga: Pemprov Diminta Cepat Perbaiki Jalan Putus Depan Kodim

Pemaparan disampaikan oleh Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo.

Bagi Jambi, ancaman karhutla bukan sekadar persoalan musim kemarau. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut kerap menghadirkan tantangan berbeda. Api tidak selalu terlihat di permukaan. Bara dapat bertahan lama di bawah tanah dan sewaktu-waktu muncul kembali.

Baca Juga: Al Haris Lantik Pengurus HMPM Padang

Di tengah tantangan itulah berbagai upaya pencegahan terus dilakukan. Pemerintah daerah, aparat TNI-Polri, perusahaan, hingga masyarakat berupaya memperkuat langkah mitigasi, agar kebakaran tidak kembali menimbulkan kerugian besar.

Gubernur Jambi menyampaikan apresiasi terhadap berbagai langkah pencegahan karhutla yang telah dilakukan selama ini. Menurutnya, praktik membuka lahan dengan cara membakar kini mulai dapat ditekan.

"Usahanya banyak, itu yang luar biasa. Kendala kami hari ini kebun masyarakat, sudah mulai kita minimalisir. Dengan banyaknya kampanye dari teman-teman, Kapolsek dan Danramil, Babinsa. Semuanya. Kampanye tentang sanksi dan sebagainya. Artinya masyarakat sudah bisa ngerem," ujarnya.

Upaya tersebut tidak hadir begitu saja. Edukasi yang dilakukan dari tingkat desa hingga kecamatan, keterlibatan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta berbagai sosialisasi mengenai dampak dan sanksi hukum pembakaran lahan mulai menunjukkan hasil.

Pemerintah Provinsi Jambi juga mengembangkan program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB). Namun, dalam praktiknya masih terdapat sejumlah hambatan. Salah satu yang paling menonjol adalah persoalan kepemilikan dan pengelolaan lahan masyarakat.

Menurut Gubernur, sekitar 40 persen kebakaran lahan masih terjadi di lahan milik masyarakat. Sementara sisanya berada di kawasan taman nasional, Tahura, serta kawasan konservasi lainnya.

Kondisi tersebut membuat upaya penanganan membutuhkan dukungan regulasi yang lebih kuat. Pemerintah daerah menilai perlu adanya ruang kebijakan yang memungkinkan langkah-langkah konkret dilakukan di kawasan gambut sebagai bagian dari pencegahan jangka panjang.

"Saya waktu rapat terakhir mau ngomong ke Menteri Kehutanan, kita akan mengambil langkah-langkah. Kita ingin ada regulasi yang mengatur boleh mengambil langkah-langkah di lahan gambut," kata Al Haris.

Di antara berbagai masukan yang muncul dalam forum itu, penanaman bambu menjadi perhatian tersendiri. Usulan tersebut tidak hanya realistis, tapi juga memiliki manfaat ekologis yang besar bagi lahan gambut.

Menurut Gubernur, bambu memiliki kemampuan memperkuat struktur tanah. Tanaman ini juga dikenal memiliki kandungan air yang cukup tinggi, sehingga tidak mudah habis dilahap api.

"Tanam bambu di lahan gambut itu bagus saya kira. Pertama, memperkuat tanah, kemudian juga kuat. Terbakar juga sulit. Bambu kan mengandung air. Paling daunnya habis, batangnya tidak begitu mudah dihabiskan oleh api. Nah saya setuju," tegasnya.

Pernyataan itu menandai kemungkinan hadirnya pendekatan baru dalam pencegahan karhutla. Jika selama ini perhatian lebih banyak diarahkan pada patroli, pemadaman, dan penegakan hukum, maka penanaman vegetasi tertentu mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi perlindungan kawasan gambut.

Gubernur memastikan gagasan tersebut tidak akan berhenti sebatas diskusi. Pemerintah Provinsi Jambi bersama Korem 042/Garuda Putih berencana menindaklanjuti arahan tersebut melalui rapat bersama forkopimda, para bupati dan wali kota, serta organisasi perangkat daerah terkait.

Langkah berikutnya memperluas edukasi mengenai pentingnya penanaman bambu di sejumlah wilayah gambut yang dinilai rawan kebakaran.

"Mudah-mudahan nanti di lahan-lahan gambut ditanam bambu, sehingga bisa mengurangi risiko bencana di lahan gambut nantinya," pungkas Al Haris.

Sementara itu, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menjelaskan, pencegahan karhutla di lahan gambut tidak bisa disamakan dengan lahan mineral. Karakteristik gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah menjadikan kebakaran lebih sulit dideteksi dan ditangani.

Fenomena smouldering dan sleeping fire, yakni bara yang terus hidup di dalam lapisan gambut, menjadi salah satu tantangan terbesar. Api dapat bertahan dalam waktu lama tanpa terlihat, lalu muncul kembali ketika kondisi mendukung.

Menurut Kunto, pendekatan pencegahan harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Menunggu hingga api membesar berarti menghadapi pekerjaan yang jauh lebih berat.

Dalam paparannya, ia memperkenalkan doktrin Siklus Pertahanan Gambut sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi ancaman karhutla.

Doktrin tersebut terdiri empat tahapan. Zirah untuk perlindungan personel, tameng sebagai langkah pencegahan, pedang untuk pemadaman cepat dan tuntas, serta pemulihan pascakebakaran.

Gagasan itu menekankan bahwa penanganan karhutla tidak hanya bicara mengenai operasi pemadaman. Pencegahan, kesiapsiagaan, perlindungan personel, serta pemulihan kawasan harus berjalan dalam satu siklus yang saling berkaitan.

“Pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI dan pemerintah, tapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Karena itu kami mengajak masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujar Kunto.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perang melawan karhutla tidak bisa dimenangkan satu pihak saja. Di lahan gambut yang rentan menyimpan bara, setiap tindakan pencegahan memiliki nilai yang sangat berarti.

Di antara berbagai strategi yang disiapkan, bambu kini hadir sebagai simbol harapan baru. Sebuah tanaman yang selama ini dikenal sederhana, tapi berpotensi menjadi benteng hijau untuk menjaga gambut tetap basah, tetap kuat, dan terhindar dari ancaman api yang selalu mengintai saat musim kemarau datang. ***

 

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya