INFOJAMBI.COM – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengingatkan kalangan pekerja dan pengusaha agar tidak terjebak dalam hubungan industrial yang hanya sebatas harmonis.
Di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan, ia mendorong agar pola interaksi tersebut naik kelas menjadi lebih transformatif.
Baca Juga: Menteri Ida Minta Perusahaan Giant Menjamin Hak Pekerja
Pesan ini disampaikan Yassierli saat membuka Musyawarah Nasional Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FSP FARKES) KSPSI, di Jakarta, Kamis lalu.
Stabilitas dan peredaman konflik dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah cepat.
Baca Juga: 15 Provinsi Dapat Penghargaan Pembina K3, Salah Satunya Jambi
“Hubungan industrial harus naik kelas. Tidak hanya harmonis, tetapi juga transformatif, di mana pekerja dan perusahaan menjadi mitra strategis yang tumbuh bersama,” ujar Yassierli.
Transformasi ini dipandang mendesak karena arus otomasi mulai menggeser struktur pekerjaan konvensional di berbagai sektor.
Baca Juga: Menaker Ajak Serikat Pekerja Hadapi Disrupsi AI dengan Upskilling
Pekerja dituntut untuk lebih adaptif terhadap digitalisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan industri masa kini.
Pemerintah berkomitmen memastikan bahwa inovasi teknologi tidak berjalan sendiri tanpa adanya perlindungan bagi para buruh. Produktivitas perusahaan harus selaras dengan jaminan kesejahteraan agar tercipta ekosistem kerja yang berkeadilan.
“Ketika dunia berbicara tentang IT, otomasi, dan AI, kita harus memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal. No one left behind. Inovasi dan produktivitas harus berjalan seiring dengan perlindungan pekerja,” tegasnya kembali.
Yassierli menjelaskan bahwa kematangan hubungan industrial memerlukan proses panjang yang dimulai dari kepatuhan terhadap regulasi.
Tahapan tersebut kemudian berkembang melalui komunikasi terbuka hingga mencapai level kolaborasi strategis antara kedua belah pihak.
Pada tingkat tertinggi, tenaga kerja tidak lagi dipandang sebagai faktor produksi semata melainkan aset berharga bagi perusahaan.
Sudut pandang ini diyakini mampu memperkuat daya saing usaha sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi para pekerja.
“Mimpi saya, semua perusahaan maturitas hubungan industrialnya naik kelas. Yang dulunya tidak ada SP/SB jadi ada SP/SB,” jelas Yassierli mengenai harapannya terhadap penguatan serikat pekerja.
Ia juga menyoroti pentingnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berkualitas untuk menciptakan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution).
Perusahaan dan buruh diharapkan mulai peduli terhadap isu-isu lingkungan di sekitar tempat mereka beroperasi.
“Yang tidak ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) jadi punya PKB. Yang sudah punya PKB tapi pasalnya masih kering, sudah ada win-win solution. Naik kelas lagi, mulai berkolaborasi, perusahaan dan pekerja menjadi mitra bersama, mereka juga concern peduli terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.
Semangat saling percaya dan saling mendengar harus menjadi landasan dalam mencari solusi atas setiap permasalahan ketenagakerjaan.
Aspirasi para buruh diharapkan dapat disampaikan secara konstruktif melalui jalur dialog sosial yang sehat.
Pendekatan budaya gotong royong dan musyawarah mufakat dinilai efektif untuk menyelesaikan perselisihan tanpa harus berlarut-larut.
Hal ini sejalan dengan identitas bangsa yang mengedepankan kekeluargaan dalam mencari titik temu antar kepentingan.
“Kita punya kekuatan budaya gotong royong dan musyawarah. Dengan semangat itu, persoalan hubungan industrial dapat diselesaikan bersama,” ujar Yassierli meyakinkan para peserta munas.
Melalui momentum ini, serikat pekerja didorong untuk terus memperjuangkan hak-hak dasar yang layak bagi seluruh anggotanya.
Di saat yang sama, buruh juga diminta ikut mendukung efisiensi dan cara kerja modern demi kemajuan industri nasional.
Hubungan industrial yang transformatif diyakini menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
Kesiapan dunia kerja dalam menyambut perubahan akan membawa bangsa menuju visi Indonesia Emas yang lebih sejahtera. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com