Hoaks Omicron Beredar, Pemerintah Minta Masyarakat Bijak Pilih Informasi.

| Editor: Mursyid Sonsang
Hoaks Omicron Beredar, Pemerintah Minta Masyarakat Bijak Pilih Informasi.

lNFOJAMBI.COM - Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Dedy Permadi mengatakan, dari survei data yang dilakukan Katadata Insight dan Kementerian Kominfo menunjukkan setidaknya 30 hingga 60 persen masyarakat di Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi di dunia maya. Hasil patroli siber Kementerian Kominfo sejak 2020 sampai 9 Desember 2021 masih menunjukan penemuan berbagai macam hoaks dan disinformasi.


Dalam Siaran Pers Menolak Hoaks COVID-19 dari Media Center Forum Merdeka Barat 9 ( FMB9) –KPCPEN, Kamis (9/12/2021), Dedy mengatakan dengan ditemukannya varian baru seperti Omicron, pentingnya mewaspadai kabar bohong yang beredar terutama terkait virus tersebut.

Karena itu ia mengingatkan masyarakat selalu berhati-hati, taat protokol kesehatan, mengikuti kebijakan yang berlaku, dan menggencarkan vaksinasi untuk menekan risiko persebaran
COVID-19, dan mengimbau untuk menghentikan persebaran hoaks.

“Mari semakin cerdas dalam memilah informasi agar angka persebaran COVID-19 terus menurun, menuju aktivitas yang lebih aman dan produktif,” ajaknya.

Untuk isu hoaks COVID-19, kata Dedy, telah ditemukan 2020 isu pada 5228 unggahan media sosial, dengan persebaran terbanyak pada Facebook sejumlah 4527 unggahan. Pemutusan akses telah dilakukan terhadap 5079 unggahan dan 149 lainnya sedang ditindaklanjuti.

Kemudian, untuk isu hoaks vaksinasi COVID-19, ditemukan sebanyak 408 isu pada 2489 unggahan media sosial, dengan persebaran terbanyak juga pada platform Facebook sejumlah 2297 unggahan. Dedy menjelaskan, pemutusan akses telah dilakukan terhadap seluruh unggahan tersebut.

Sedangkan terkait isu hoaks PPKM, ditemukan sebanyak 49 isu pada 1250 unggahan media sosial, dengan persebaran terbanyak juga pada Facebook sejumlah 1232 unggahan. Pemutusan akses dilakukan terhadap 1090 unggahan dan 160 lainnya tengah ditindaklanjuti.

“Pada minggu ini, jika dilihat dari setiap topik hoaks terkait COVID-19, masih ada pertambahan isu
dan angka sebaran yang melebihi angka dari minggu yang lalu,” papar Dedy.

Lebih rinci ia menjelaskan,“Namun secara keseluruhan, pada minggu ini total pertambahan hoaks tentang COVID-19, vaksinasi COVID-19, dan PPKM adalah sebanyak 17 isu di 74 unggahan media sosial".

Dari 17 isu hoaks seputar COVID-19 yang beredar selama seminggu terakhir, ujar Dedy, terdapat
beberapa contoh hoaks dan disinformasi yang perlu ditangkal bersama. Pertama, pada 2 desember tersebar hoaks melalui sebuah gambar tangkapan layar pada situs WHO
yang menunjukkan bahwa varian Omicron terdaftar pada November 2020 dan bukan varian COVID-
19 terbaru.

Kedua, pada 3 Desember beredar hoaks melalui sebuah video di media sosial yang mengklaim bahwa
penyintas COVID-19 tidak perlu di vaksin karena memiliki kekebalan natural. Ketiga, pada hari yang sama, telah beredar disinformasi di media sosial sebuah poster film berjudul The Omicron yang diklaim tayang pada tahun 1963.

Keempat, pada 4 Desember beredar disinformasi postingan di media sosial yang membagikan daftar dugaan gejala virus Corona varian Omicron dan menyiratkan bahwa gejala tersebut sebenarnya adalah komplikasi dari vaksin COVID-19.

Kelima, pada hari yang sama beredar juga hoaks di media sosial bahwa varian baru Omicron telah dijadwalkan oleh WHO melalui tabel abjad Omicron dengan keterangan bulan Mei 2022.

Keenam, pada 5 Desember, disinformasi video yang berisikan kumpulan atlet yang jatuh pingsan,
dikaitkan dengan efek vaksin  membuat masalah jantung atau miokarditis pada olahragawan.**BS**

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait

Berita Lainnya