Tumbuh 5,61 Persen, Konsumsi dan Manufaktur Selamatkan Ekonomi Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen secara year-on-year, tertinggi sejak kuartal IV 2022.

Reporter: DOD | Editor: Admin
Tumbuh 5,61 Persen, Konsumsi dan Manufaktur Selamatkan Ekonomi Indonesia
Ilustrasi by Gemini

INFOJAMBI.COM -  Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dibayangi pelemahan perdagangan internasional, fluktuasi harga komoditas, dan tensi geopolitik dunia, ekonomi Indonesia justru menunjukkan kinerja yang cukup mengejutkan pada kuartal I 2026. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,61 persen secara year-on-year, tertinggi sejak kuartal IV 2022. 

Baca Juga: Melihat Performance Bank Jambi Dalam Indikator GRC

Capaian tersebut memunculkan optimisme baru terhadap arah pemulihan dan penguatan ekonomi domestik, meski sejumlah pengamat mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak pada euforia pertumbuhan jangka pendek tanpa pembenahan struktural yang berkelanjutan.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen secara year-on-year merupakan sinyal positif yang menunjukkan daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global. 

Baca Juga: Pesantren Disuruh Tanam Cabai Demi Tekan Inflasi, Noviardi Ferzi : Bukan Solusi

Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal IV 2022 sekaligus melampaui capaian kuartal I 2025 yang hanya berada di level 4,87 persen.

Menurutnya, capaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran konsumsi domestik, momentum Ramadan dan Idul Fitri, serta membaiknya ekspor manufaktur yang masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Baca Juga: Pengaruh Suku Bunga BI dan Inflasi yang Semakin Tinggi

“Ini menunjukkan ekonomi Indonesia relatif tahan menghadapi tekanan global, mulai dari fluktuasi harga komoditas hingga ketidakpastian perdagangan internasional. Konsumsi masyarakat tetap bergerak dan industri manufaktur masih mampu menjaga ekspor,” ujarnya.

Ia menilai sektor industri pengolahan masih menjadi mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kinerja subsektor makanan dan minuman, kimia-farmasi, hingga logam dan elektronik dinilai memperlihatkan adanya penguatan aktivitas produksi nasional.

Namun demikian, Noviardi mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan angka pertumbuhan yang terlihat impresif di permukaan. Pasalnya, secara quarter-to-quarter ekonomi justru mengalami kontraksi tipis sebesar 0,77 persen yang menandakan masih adanya persoalan struktural dalam fondasi pertumbuhan nasional.

“Secara tahunan memang tumbuh tinggi, tetapi secara kuartalan justru minus. Ini menandakan ekonomi kita masih sangat dipengaruhi faktor musiman dan belum sepenuhnya ditopang produktivitas jangka panjang,” katanya.

Noviardi menyoroti ketergantungan ekonomi terhadap sektor berbasis komoditas dan pertanian musiman masih cukup besar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat pertumbuhan mudah melambat ketika terjadi tekanan eksternal atau penurunan harga komoditas global.

Karena itu, Noviardi mendorong pemerintah mempercepat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi dan berbasis teknologi. Reformasi birokrasi, percepatan investasi infrastruktur, serta penciptaan lapangan kerja produktif dinilai harus menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat bawah.

“Pertumbuhan saya pikir sangat baik, namun tantangan terbesar pemerintah sekarang adalah bagaimana mengubah pertumbuhan itu menjadi kesejahteraan riil, terutama bagi masyarakat kelas menengah bawah yang masih menghadapi tekanan daya beli,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan momentum konsumsi musiman dan ekspor komoditas semata.

“Kalau tidak ada diversifikasi ekonomi yang serius dan reformasi struktural yang konsisten, maka target besar itu berisiko menjadi sekadar optimisme politik tanpa fondasi kuat,” pungkasnya. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya