Menjawab Kebingungan Petani Pinang Tanjung Jabung Timur

| Editor: Admin
Menjawab Kebingungan Petani Pinang Tanjung Jabung Timur
Hefri Oktoyoki, S.Hut, M. Si



MENJADI menarik dan penting menanggapi kebingungan petani pinang di Tanjung Jabung Timur akibat pinang mereka tidak berbuah lagi. Seperti yang diberitakan oleh INFOJAMBI.COM pada tanggal 5 Desember 2016, lihat link: https://infojambi.com/petani-bingung-pohon-pinang-tak-berbuh-lagi/ . Menarik karena ini adalah fenomena unik yang belum pernah dialami petani pinang di Tanjung Jabung timur, sehingga perlu dicari tahu apa penyebabnya. Penting karena hal ini menyangkut mata pencaharian dan kelangsungan hidup petani. Jika pinang tak lagi berbuah, lalu bagaimana petani memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam konteks itu,  artikel ini mencoba menganalisis penyebab kegagalan panen tersebut.

Dari hasil diskusi penulis dengan beberapa teman alumni Magister Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) dari berbagai jurusan, setidaknya ada Empat faktor penyebab pinang petani tak berbuah lagi, yaitu:


  1. Pemupukan yang tidak intensif.

Petani pinang di Tanjung jabung Timur pada umumnya tidak melakukan pemupukan pinang secara intensif sebagaimana halnya pemupukan terhadap tanaman Kelapa Sawit, karena pinang dianggap lebih mudah hidup. Padahal, Pohon buah apapun termasuk pinang, agar terus menerus berbuah, pada prinsipnya tergantung ketersediaan nutrisi. Bisa jadi tanaman berhenti berbuah karena tidak tersedianya nutrisi yang cukup. Kalaupun cukup ada kemungkinan tidak terserap dengan optimal.  Kondisi hara yang kurang mencukupi tersebut mengakibatkan proses metabolisme tanaman terganggu khususnya unsur hara esensial yaitu NPK, Ca, MG, S.

  1. Perawatan tanaman.

Setelah ditanam, pinang memerlukan pemeliharaan karena selama pertumbuhan seringkali mengalami hal-hal yang kurang menguntungkan seperti : gangguan hama, gulma, iklim yang buruk, kekurangan air dan sebagainya. Gangguan tersebut dapat menurunkan mutu hasil. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan untuk menekan serendah mungkin faktor-faktor penghambat tersebut. Dalam hal ini, pemeliharaan tanaman sangatlah penting, karena merupakan salah satu faktor penentu dalam produktivitas tanaman.  Semakin baik cara pemeliharaan tanamannya, maka semakin tinggi pula produktivitas tanaman dan begitu juga sebaliknya  (Untung 1996). Pemeliharaan tanaman yang dimaksud adalah semua tindakan manusia yang bertujuan untuk memberi kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan hasil atau produksi yang maksimal.  Seringkali para petani melalaikan pemeliharaan teradap tanaman, sehingga mangalami kerugian.  Hal ini tentunya bukanlah yang diharapkan oleh mereka.

  1. Penggunaan bibit yang tidak jelas (asalan).

Berdasarkan wawancara saya dengan beberapa petani pinang di Tanjung Jabung Timur, mereka mengatakan bibit pinang yang ditanaman tersebut bukanlah bibit unggul.

Kutipan wawancara dengan Pak Marto: ”kami menggunakan bibit pinang biasa karena harga bibit yang bagus cukup mahal bagi kami”

Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa bibit merupakan suatu parameter keberhasilan produksi tanaman. Artinya, dalam suatu kegiatan budidaya tanaman dapat dilihat dari mutu benih yang digunakan. Apabila benih yang digunakan memiliki mutu yang baik maka hal ini dapat menjamin keberhasilan budidaya tanaman itu sendiri. Budidaya tanaman perkebunan termasuk pinang yang menggunakan bibit dari sumber yang tidak jelas (asalan) seperti bibit cabutan dan bibit polong (berasal dari biji atau perbanyakan generatif) biasanya akan menghasilkan tanaman pinang dengan produktivitas rendah. Keadaan ini tentu sangat merugikan petani, oleh karena itu sebaiknya penggunaan bibit asalan dapat dihindari. Apalagi tanaman perkebunan merupakan tanaman yang ditanam untuk jangka waktu yang panjang sehingga jika menggunakan bibit asalan akan menyebabkan kerugian yang berjangka panjang pula.

  1. Iklim yang tidak menentu.

Kondisi iklim juga bisa mempengaruhi pembungaan. Bunga yang sudah terbentuk mengalami kegagalan akibat iklim yang tidak menentu. Pembungaan yang gagal disebabkan lebih banyak terbentuk bunga jantan saja, atau sebaliknya terbentuk bunga betina saja sehingga tidak dapat dilakukan penyerbukan. Tanaman pinang ini sebenernya bisa menyerbukan silang, tetapi karena kondisi cuaca yang tak menentu menyebabkan kegagalan penyerbukan silang tersebut.

Dilihat dari analisis faktor penyebab kegagalan berbuahnya pinang di atas maka setidaknya ada empat solusi yang bisa direkomendasikan, baik kepada petani maupun kepada pemerintah kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai pembuat kebijakan (policy maker).

Pertama, pemerintah yang barangkali dalam hal ini penyuluh pertanian setempat perlu melakukan pembinaan intensif kepada petani pinang agar mau melakukan pemupukan pinang milik mereka sebagaimana halnya Sawit. Kecenderungan petani pinang tradisonal yang “enggan” melakukan pemupukan mesti mendapat pembinaan serius oleh pemerintah. Jika permasalahannya adalah ketersediaan biaya pemupukan, maka, pemerintah sudah seharusnya menjadi solusi bagi penyediaan pupuk untuk petani.

Kedua, wilayah Tanjung Jabung Timur terlebih di Kecamatan Mendahara adalah daerah pasang surut. Maka dalam hal pemeliharaan tanaman, selain penggemburan tanah dan pembersihan guma, titik tekan terpentingnya adalah pengaturan tata air (water management), sehingga pH tanah menjadi sesuai (suitable) dengan kondisi yang dibutuhkan tanaman pinang (pH 4-6).

Ketiga, pemerintah perlu mengedukasi dan mendorong petani pinang tersebut untuk menggunakan bibit unggul agar produktivitasnya menjadi tinggi. Bagi petani yang terlanjur menggunakan bibit asalan yang saat ini umur pohon telah melebihi 10 tahun, maka pemerintah perlu mendorong untuk dilakukan penenanam kembali (replanting). Replanting menjadi penting agar pinang tidak terus berlama-lama berada dalam keadaan produktivitas yang terhambat.

Keempat, analisis ini sesungguhnya masih bersifat common sense yang mungkin saja masih dangkal, sehingga kami menyarankan untuk dilakukan penelitian mendalam mengenai fenomena pinang petani Tanjab Timur tersebut.

Artikel ini merupakan hasil diskusi dengan alumni pascasarjana IPB dari berbagai bidang ilmu (Ahmad Sutopo,M.Si, Reno Ar, M.Si, dan Helfi Eka Saputra, M. Si).

Penulis: Hefri Oktoyoki, M. Si.

Baca Juga: Pekan Olahraga untuk Menyegarkan Wartawan Profesional

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait

Berita Lainnya