Dari “Bos” Palsu, Pindang Kota Baru, hingga Obrolan Kopi Tanpa Gula

PERTENGAHAN tahun 2009. Langkah kaki membawa saya kembali ke tanah Jambi.

Reporter: - | Editor: Admin
Dari “Bos” Palsu, Pindang Kota Baru, hingga Obrolan Kopi Tanpa Gula
Perjalanan terakhir...

Oleh: Doddi Irawan | Jurnalis tinggal di pinggiran Kota Jambi

PERTENGAHAN tahun 2009. Langkah kaki membawa saya kembali ke tanah Jambi. Empat tahun lamanya, sejak 2005 hingga 2009, saya vakum dari hiruk-pikuk tinta dan kamera. Dunia ke wartawanan yang saya geluti sejak awal 90-an sempat saya tinggalkan.

Baca Juga: VIDEO : BPJS Ketenagakerjaan Rakor dengan Wartawan

Pintu profesi itu akhirnya membuka lagi. Sahabat yang sudah saya anggap keluarga, Mursyid Sonsang, mengajak saya bergabung di infojambi, sebuah media online yang baru setahun dikelolanya.

Ada satu kebiasaan yang tak pernah lupa saya lakukan setiap ada media baru. Saya pasti membongkar box redaksinya. Saya ingin tahu siapa pengelolanya, terutama sang pemimpin redaksi.

Baca Juga: Security Hiburan Malam Rampas Identiitas Wartawan

Di halaman susunan redaksi infojambi itu, saya lihat ada beberapa nama yang sudah saya kenal sebelumnya. Namun, satu nama sama sekali asing di telinga saya: Hery Farmansyah.

Saya pun menerima tawaran bergabung di infojambi. Posisi redaktur pelaksana diamanahkan ke saya. Di sinilah saya pertama kali mengenal Hery. Kala itu, dia masih berstatus reporter lapangan. Pos liputannya di lingkungan Pemerintah Kota Jambi.

Baca Juga: Peras Toke Pupuk, Wartawan Gadungan Diciduk

Suasana di kantor dan luar kantor kami hidupkan dengan canda tawa. Kami saling menghargai dan menghormati. Meski usianya empat tahun lebih tua dari saya, Hery tidak pernah memanggil nama saya langsung.

"Bos," begitu dia menyapa saya. Padahal saya bukan bos siapa-siapa.

Saya membalasnya dengan sebutan yang sama. Kami saling memanggil "bos". Dari kelakar itu, diskusi kami mengalir hangat. Bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan mengasah pengetahuan.

Pembahasan kami melintasi teknik penulisan berita yang benar hingga norma tebal Kode Etik Jurnalistik sampai undang-undang pers. Hery beberapa kali datang ke rumah saya hanya sekadar untuk bertukar cerita.

Momen Berpisah Atap dan PWI

Sekitar tahun 2011, Hery sengaja datang menemui saya. Ia mengutarakan niat besarnya, ingin mendirikan media sendiri. Saya menyambut niat itu dengan lapang dada, meski sadar kami tak akan lagi berada di bawah satu atap redaksi.

Dari tangan Hery dan Hendri Nursal—yang sebelumnya juga wartawan infojambi— lahirlah jambidaily,com. Panggilan "bos" yang dulu sekadar gurauan, akhirnya menjadi kenyataan. Hery benar-benar menjadi seorang bos. Dia memimpin redaksi media baru itu.

Lama tak aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), saya kembali merapat ke organisasi wartawan terbesar di Indonesia itu. Kepemimpinan PWI Jambi masa itu dipegang oleh Bang Mursyid.

Hery pun ikut aktif. Hubungan kami kian erat, meski berada di bendera media yang berbeda.

Pada pemilihan Ketua PWI Jambi periode 2012–2017, pandangan politik organisasi kami selaras. Kami berdiri rapat di barisan Bang Mursyid untuk periode keduanya. Bang Mursyid kemudian mengajak kami berdua masuk dalam jajaran kepengurusan PWI Jambi periode 2012–2017.

Dinamika berlanjut pada periode 2017–2022. Pada pemilihan kali ini, jalan politik kami berseberangan. Saya dan Hery beda pilihan. Namun suhu politik tak sedikit pun meretakkan hubungan kami. Persahabatan kami tetap hangat.

Kubu Hery akhirnya memenangkan kontestasi. Saman menjadi Ketua PWI Jambi, dan Hery dipercaya sebagai sekretaris. Sementara saya tidak aktif lagi di kepengurusan.

Hubungan saya dan Hery terus berjalan seperti biasa. Kami masih sering berdiskusi, berbagi cerita, dan saling memperbarui informasi dunia kewartawanan. Kalau bertemu, selalu saja ada cerita yang mengundang tawa.

Hery sosok yang haus ilmu. Dia rajin membaca. Ia punya minat besar memahami seluk-beluk kewartawanan lebih dalam. Beberapa kali dia meminjam buku-buku jurnalistik koleksi saya.

Pertemuan di Warung Pindang

Tahun 2022, suksesi PWI Jambi periode 2022–2027 bergulir. Entah siapa yang memulainya, nama saya mencuat ke permukaan. Isu berembus bahwa saya akan maju bertarung. Di sisi lain, Hery menyimpan minat besar untuk memimpin PWI Jambi.

Saya pribadi sesungguhnya tak punya niat sedikitpun untuk maju. Namun, isu yang terlanjur menggelinding membuat Hery galau juga. Hahaha... Persahabatan kami diutik rasa cemas politik, walau sikap kami tak berubah.

Melihat situasi itu, Hery mengajak saya bertemu. Empat mata saja. Saya yang tak mau sahabat saya itu dirundung keraguan pun mengiyakannya.

Sebuah warung pindang di kawasan Kota Baru menjadi saksi. Di meja kayu, diawali makan siang, kami bicara ditemani seduhan kopi tanpa gula.

Hery membuka tas sandangnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas. Isinya daftar nama anggota PWI Jambi pemilik hak suara. Maksudnya jelas, ingin berhitung matematis, memetakan mana basis suara pendukung saya, dan mana pendukung dia.

Lembaran kertas itu hanya saya lihat sebentar. Di hadapan cangkir kopi pahit, saya tatap matanya dalam. Saya sampaikan penegasan: saya tidak akan maju dalam pemilihan Ketua PWI Jambi.

Saya juga memberi dia suntikan semangat. Saya minta dia tak perlu risau dengan isu yang beredar. “Saya tidak maju. Titik,” tegas saya untuk membuat dia semakin yakin.

Namun, drama kontestasi berkata lain. Jelang detik-detik pemungutan suara pada hari H pemilihan, Hery mundur dari pencalonan. Pemilihan itu akhirnya dimenangkan HR Ridwan Agus DPT, senior kami yang sudah lebih dulu berkecimpung di dunia jurnalistik.

Sejak masa pencalonan, saya selalu menyapa Hery dengan sebutan "ketua". Sampai setelah pemilihan saya terus memanggilnya begitu. Tapi dia menolak dengan sebutan itu.

"Panggil ketue bae. Ketua itu kalo sayo menang," ujarnya berseloroh diiringi tawanya yang khas.

Sejak hari itu, sapaan "bos" resmi pensiun. Saya selalu memanggilnya "ketue".

Menjelajah Luar Daerah

Urusan PWI usai. Kami menyatukan energi di wadah lain: Forum Jurnalis Migas (FJM) Provinsi Jambi. Jauh sebelum itu, pada tahun 2014, saya dan Hery memang ikut membidani kelahiran FJM Jambi bersama Bang Mursyid, Muhammad Surtan, Herri Novealdi, dan Wiliatno.

Di bawah bendera FJM, melintaslah jejak-jejak perjalanan kami ke luar daerah. Banyak wilayah telah kami datangi bersama. Kami bahkan kerap sekamar di hotel tempat kami menginap.

"Setuean (sama-sama tua-Red)," begitu istilah humor yang kerap dilempar Hery, merujuk pada usia kami yang sudah setengah abad.

Perjalanan terakhir kami berlabuh di Lampung. Kami mengikuti kegiatan media gathering FJM bersama SKK Migas dan KKKS Wilayah Jambi.

Awalnya, kondisi kesehatan Hery tampak prima. Namun, pada malam kedua di Lampung, tubuhnya menyerah. Hery mendadak mengeluh sakit. Napasnya sesak, perutnya kram.

"Pijat badan sayo, Bos," mintanya.

Saya pun memijat sekujur tubuhnya. Dia minta punggung dan dadanya digosok minyak kayu putih. Saya balurkan minyak itu ke badannya. Namun, sakitnya tak kunjung redam.

Kepanikan mulai menguasai saya. Saya mendesak Hery agar mau dibawa ke rumah sakit. Dia sempat menolak, tapi terus saya paksa.

Melihat kondisinya kian memburuk, saya tidak membiarkannya bertahan. Saya panggil Anil dan Wili —dua kawan yang kerap mengobrol di kamar kami. Bersama beberapa wartawan lainnya, termasuk Ketua FJM Jambi, Bang Mursyid, kami melarikan Hery ke rumah sakit.

Setelah diperiksa di IGD, dokter memerintahkan Hery menjalani rawat inap. Kami pun berbagi tugas, bergantian menjaga tidurnya di bangsal rumah sakit. Ketua FJM juga ikut berjaga. Apalagi Hendry Nursal, sosok yang paling dekat dengan Hery.

Karena Hery masih terbaring dalam perawatan, rencana kepulangan kami ke Jambi tertunda. Hari Kamis, rombongan wartawan peserta gathering pulang lebih dulu melalui jalur darat. Hery baru diperbolehkan keluar dari rumah sakit hari Jumat.

Jumat sore Hery keluar dari rumah sakit. Tapi masalah baru muncul. Tidak ada jadwal penerbangan langsung rute Lampung–Jambi hari itu. Kami akhirnya terpaksa menginap semalam lagi di Bandar Lampung.

Keesokan hari, penerbangan Lampung–Jambi tetap nihil. Yang ada hanya rute Lampung–Jakarta. Ditemani Rasid Ramadhani dari tim EO, atas persetujuan SKK Migas, kami memutuskan terbang ke Jakarta Sabtu itu.

Kami menginap semalam di hotel area Bandara Soekarno-Hatta, menunggu penerbangan pertama ke Jambi pada Minggu pagi. Malam itu saya tak bisa tidur nyenyak, mengingat kondisi Hery yang belum sepenuhnya pulih.

Minggu pagi, pesawat membawa kami pulang. Kami pun mendarat dengan selamat di tanah Jambi. Bersama Ketua FJM, kami serahkan dia ke Ayuk Sri, istrinya yang sudah lama cemas menanti kepulangan sang suami.

Dering Telepon di Larut Malam

Sekembalinya ke Jambi, Hery langsung menjalani pengobatan rutin. Setiap satu atau dua minggu sekali, dia pasti memberi kabar. Lewat pesan suara WhatsApp atau video call, dia tekun menginfokan perkembangan kesehatannya yang kian membaik. Kami juga tak pernah lupa saling mendoakan.

Yang saya salutnya, dia mampu mengubah pola hidupnya secara drastis. Hery yang dulu perokok, bisa berhenti total merokok. Setiap pagi dia rajin jogging bersama istrinya. Waktu tidurnya tertata rapi. Usai salat Isya, paling lambat jam 9, dia sudah beristirahat.

Hingga malam itu tiba. Sabtu, 8 Agustus 2026, sekitar pukul 23.30 WIB.

Saya baru saja menginjakkan kaki di rumah. Baru saja berganti pakaian dan duduk melepas lelah di depan televisi. Tiba-tiba ponsel saya berdering. Nama Wili tertera di layar.

"Bang, Bang Hery meninggal," ujar Wili dengan suara berat di ujung telepon.

Saya terlompat dari tempat duduk. Rasa kaget menghantam dada. Rasanya tak percaya. Setahu saya, kondisi Hery sudah jauh membaik. Hidupnya sudah sangat disiplin dan tertata.

Saat itu juga saya langsung meluncur bersama Wili menuju Rumah Sakit Bhayangkara. Namun, jenazah Hery telah dibawa pulang ke rumah duka di kawasan Pakuan Baru, Thehok.

Minggu pagi, usai dimandikan, dikafani, dan disalatkan, jenazah Hery diberangkatkan menuju Palembang, Sumatra Selatan, tempat peristirahatan terakhirnya. Ramainya pelayat menguatkan bukti dia orang baik.

Selamat jalan, Ketue... Orang baik, insya Allah mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya