Mursyid Sonsang Bedah Makna Strategis Majelis Bahagia Bersholawat Kota Jambi,  Iran Bisa Jadi Contoh 47 Tahun di Embargo, Jadi Negara yang Kuat dan Mandiri..

Mursyid Sonsang Bedah Makna Strategis Majelis Bahagia Bersholawat Kota Jambi,  Iran Bisa Jadi Contoh 47 Tahun di Embargo, Jadi Negara yang Kuat dan Mandiri..

Reporter: TIM | Editor: Admin
Mursyid Sonsang Bedah Makna Strategis Majelis Bahagia Bersholawat Kota Jambi,  Iran Bisa Jadi Contoh 47 Tahun di Embargo, Jadi Negara yang Kuat dan Mandiri..
Mursyid sonsang ( dok pri)

INFOJAMBI.COM - Peluncuran program Majelis Bahagia Bersholawat oleh Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, M.K.M, memicu respons positif dari berbagai kalangan. Salah satu tanggapan strategis datang dari Direktur Media Center Pemenangan Maulana-Diza, Mursyid  Sonsang.

Alumni Lemhannas PPSA 18 tahun 2013 ini menilai bahwa gerakan membumikan shalawat yang digagas Pemerintah Kota Jambi merupakan langkah visioner yang relevan dengan kondisi ekonomi dunia yang tidak baik baik saja dan sangat berpengaruh kepada ekonomi Indonesia umumnya dan Kota Jambi khususnya.

Baca Juga: Serahkan SK PNS Baru, Wali Kota Maulana Ingatkan Amanah dan Proses Seleksi Murni

Mursyid yang juga tokoh pers Jambi ini memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi program tersebut. Menurutnya, program Shalawat Bahagia ini bukan sekadar aktivitas religius rutin, melainkan instrumen penting dalam menjaga stabilitas kebatinan masyarakat di tengah badai krisis global. Akibat perang  AMIS ( Amerika, Zionis Israel) mengeroyok Iran. 

Begitu juga kondisi ekonomi Indonesia yang juga tidak baik baik saja. Dari APBN hingga APBD terjadi efesiensi besar besar besaran. 

Baca Juga: Bangkitkan Ekonomi Kreatif, Maulana Resmikan Wisata Kuliner Kota Tua Jambi

Dijelaskannya, sebagai contoh Negara Iran kekuatan rahasia kehebatan negara Iran terletak pada dua pilar utama yang tertanam di hati masyarakatnya:

Zikrullah (Mengingat Allah): 

Baca Juga: Pemkot Jambi Resmi Miliki Majelis Taklim Bahagia Bersholawat

Kesadaran bahwa Tuhan adalah pemberi rezeki yang sesungguhnya, melampaui segala kekuatan ekonomi dunia.

Selawat kepada Nabi Muhammad SAW:

Menjadikan kecintaan kepada Rasulullah sebagai energi kolektif untuk menjaga moral dan harapan di masa-masa sulit.

Pelajaran Bagi Bangsa Indonesia

Fenomena ini, menurut Mursyid, harus menjadi refleksi bagi bangsa lain bahwa ketergantungan pada kekuatan material semata sangatlah rapuh. Tekanan ekonomi yang masif justru menjadi katalisator bagi rakyat Iran untuk berinovasi dan mandiri karena mereka merasa "cukup" dengan penyandaran diri kepada Sang Pencipta.

"Di bawah tekanan luar biasa itu, rakyat Iran membuktikan bahwa ketika sebuah bangsa terus mengingat Allah dan membasahi lisan mereka dengan selawat, maka isolasi seberat apa pun tidak akan mampu mematikan semangat hidup mereka," pungkasnya pendiri SMSI dan JMSI ini 

Menurut Mursyid, durasi 47 tahun di bawah isolasi internasional bukanlah waktu yang singkat. Namun, alih-alih runtuh, bangsa tersebut justru memperlihatkan kemandirian yang mengejutkan dunia. Ia menegaskan bahwa kekuatan tersebut tidak hanya bersumber dari strategi politik semata, melainkan dari kedalaman spiritualitas rakyatnya.

"Selama 47 tahun mereka dikepung, ditekan, dan diisolasi dari sistem ekonomi dunia. Namun lihatlah, mereka bangkit bukan dengan amarah yang destruktif, melainkan dengan kekuatan batin," ujar Mursyid 

 

 

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya