Upaya Mewujudkan Wisata Halal di Serambi Mekah

AKU diberi kepercayaan mewakili kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi, mengikuti KKN Melayu Serumpun se-Sumatra III 2022

Reporter: Ditha Putri Amanda | Editor: Doddi Irawan
Upaya Mewujudkan Wisata Halal di Serambi Mekah
KKN Melayu Serumpun se-Sumatra 2022 di Gampong Gle Jong | foto : ditha

AKU diberi kepercayaan sebagai orang yang beruntung untuk mewakili kampus UIN Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi, mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Melayu Serumpun se-Sumatra III 2022.

Pesertanya berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan gegeri yang ada di Sumatra. Ini pertama aku bertemu berbagai macam teman, dari berbagai daerah, budaya, karakter, bahasa dan kebiasaan, untuk waktu yang singkat tapi menyenangkan.

Ini seperti mimpi, dapat menginjakkan kaki di Provinsi Aceh. Tak pernah menyangka bisa berada di Kota Serambi Mekah yang benar- benar indah.

Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di Nanggroe Aceh Darussalam menggunakan jalur udara lumayan lama. Harus transit di Bandara Soekarno Hatta, lalu transit lagi di Kuala Namu, baru sampailah kami di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh.

Sesampainya disana aku dibuat takjub oleh pemandangan sawah dan pegunungan di area sekitar bandara.

Tempat yang dijadikan sebagai lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) berada di Kabupaten Aceh Jaya, atau orang mengenalnya dengan Lamno. 

Di Aceh Jaya ini dulunya terdapat sebuah kerajaan pelabuhan bernama Kerajaan Daya. Raja pertamanya, Sultan Alauddin Riayat Syah bergelar Po Teumereuhom Daya, yang berhasil mengusir Portugis pada zaman dahulu kala.

Hal yang paling membanggakan, aku bisa melihat langsung si mata biru, anak keturunan Portugis yang sekarang sudah menginjak masa remaja, dengan ciri-ciri bulu pirang, kulit putih bercak merah, dan mata coklat atau biru.

Gampong Gle Jong memiliki destinasi wisata halal, yaitu Makam Po-Teumeurehom yang berdekatan dengan pantai Kuala Daya, menambah keindahan mata memandang.

Hal ini dapat menjadikan peluang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan wisata tersebut dan menjadikan peluang usaha.

Namun, berdasarkan observasi yang dilakukan, kotoran hewan ternak dan sampah plastik yang bertumpuk di area wisata Pantai Kuala Daya dan area menuju makam Po-Teumeurehom masih menjadi masalah.

Kesadaran wisatawan serta masyarakat sekitar terhadap kebersihan lingkungan penting untuk dibangkitkan. Inilah yang menjadi tujuan kegiatan pengabdian kami selama satu setengah bulan di kampung ini.

Disamping itu, mendorong terwujudnya program wisata halal, terutama Pantai Kuala Daya dan Makam Po-Teumeurehom sebagai destinasi wisata yang mematuhi adat di Aceh yang dapat meningkatkan ekonomi warga Gampong Gle Jong.

Walaupun waktu singkat dan dana yang minim, pelaksanaan program ini menjadi suatu tantangan yang dihadapi oleh peserta KKN Melayu Serumpun se-Sumatra 2022 di Gampong Gle Jong. Peserta tetap berupaya menarik dukungan warga Gampong Gle Jong terhadap pengembangan wisata halal.

Gle Jong yang Menawan

Warga Gle Jong sangat ramah dan pandai dengan ajaran agama. Apalagi anak-anak, masih kecil saja mengajinya sudah luar biasa hebat. Aku belajar banyak dari mereka.

Selain itu, setiap malam Jumat kami menghadiri pengajian kitab dengan menggunakan 3 bahasa, diantaranya bahasa Arab Jame dan bahasa Aceh, yang dipimpin oleh tetua adat.

Namun ada satu pemandangan yang membuat aku geleng kepala. Sepanjang jalan ke pasar aku melihat bapak-bapak nongkrong di warung kopi hampir setiap hari di hari-hari kerja. Aku bertanya, apa mereka ga ada kerjaan yah ? Namun pertanyaan itu hanya muncul di kepalaku saja.

Setelah selesai KKN, aku tidak lupa mengunjungi tempat wisata terkenal di Aceh, yaitu Museum Tsunami, tempat mengenang para korban tsunami yang terjadi tahun 2004 lalu.

Nama para korban yang terdata terpajang di dinding sebuah ruangan dan ayat suci Alqur’an yang menggema di dalamnya. Ruangan tersebut dinamakan sumur doa.

Selain itu kami melewati jalan kebingungan. Saat melewati jalan tersebut, kami merasa pusing dan memang betul-betul bingung. Tidak lupa pula kami melihat foto pra dan pasca tsunami serta video-videonya yang membuat saya ikut merasakan kesedihan yang mereka rasakan dulu.

Selain Museum Tsunami, kami juga mengunjungi pulau yang terkenal dengan snorkling, yaitu Pulau Sabang. Untuk menempuh perjalanan kesana, kami harus menyeberang menggunakan kapal laut selama 30 menit.

Pulau yang sangat indah dengan berbagai macam spesies ikan di dalamnya, ditambah air laut yang sangat jernih dan biru. Tidak lupa pula kami menggunakan perlengkapan menyelam, mulai dari kacamata renang, oksigen, serta pelampung.

Terakhir, yang menjadi ikon Pulau Sabang ialah Nol Kilometer, sebuah monumen yang menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara, karena kemegahan desain bangunan serta pemandangan di bawahnya. Tak henti hentinya aku memuji keindahan alam yang Allah berikan.

Gle Jong merupakan salah satu gampong (desa) yang berada di Mukim Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, yang memiliki penduduk 112 jiwa dari 72 Kepala Keluarga.

Desa ini terbagi dalam 3 dusun, yaitu Meureuhom, Kuta Dalam dan Lolhok Sekon. Gampong ini memiliki pantai yang sangat indah dan juga wisata religi paling banyak dikunjungi wisatawan.

Tujuan wisatanya berziarah ke makam Sultan Salahtin Alaidin Ri’yat Syah, yang dikenal sebagai Po-Teumeureuhom, raja yang saat itu berhasil mengusir penjajah Portugis dari Lamno, atau yang dikenal Kabupaten Aceh Jaya.

Gampong Gle Jong memiliki tradisi sangat unik, yang diadakan 1 tahun sekali saat Idul Adha, di kompleks makam Po-Teumeureuhom, yaitu tradisi Seumuleng dan Peumeunab.

Tradisi ini dilakukan turun temurun untuk menyuapi raja baru. Tentu saja hal ini menarik perhatian wisatawan untuk datang mengunjungi Gampong Gle Jong, sebab dihadiri raja-raja besar serta para pejabat Aceh Jaya.

Menjelang upacara adat, banyak masyarakat sekitar membuat tenda-tenda jualan dengan berbagai makanan dan minuman khas Aceh, di bibir pantai Kuala Daya.

Pedagang memeriahkan tradisi ini dan kesempatan mengembangkan ekonomi masyarakat Gampong Gle Jong. Masyarakat Gampong Gle Jong berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Program Wisata Halal yang Kandas

Dalam KKN Melayu Serumpun se-Sumatra 2022, kami berupaya semaksimal mungkin membantu masyarakat Gampong Gle Jong mempromosikan wisata dan menciptakan produk UMKM yang ada di Gampong Gle Jong.

Namun kami tidak mendapat dukungan, karena mereka tidak ingin Gampong dikenal masyarakat luar Aceh Jaya. Mereka takut budaya luar merusak budaya Gampong Gle Jong. Salah satunya maksiat.

Karena tidak mendapat support, kegiatan terpaksa kami lakukan lebih kepada merawat dan menjaga yang telah ada, seperti membuat tong sampah dan meletakannya di berbagai titik.

Saat itu Pantai Kuala Daya dan Makam Po-Teumeurehom tidak ada tong sampah, membuat banyak sampah menumpuk dimana-mana. Kami juga membuat silsilah raja Po-Teumeurehom, agar masyarakat yang berziarah tahu sejarah dan silsilah kerajaan Po-Teumeurehom. ***

Baca Juga: Air Asia Yang Buat Putus Asa......

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait

Berita Lainnya