INFOJAMBI.COM — Museum Sriwijaya Dharmakirti diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi Jumat (31/7/2026).
Kehadiran fasilitas edukasi baru ini disambut hangat dan mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Jambi, Al Haris. Peresmian sarana sejarah ini dihadiri jajaran forkopimda Provinsi Jambi, Bupati Muaro Jambi, dan Ketua TP PKK Provinsi Jambi.
Baca Juga: Haris - Khafid Semarakkan Puncak HKN ke-52
Al Haris menilai pendirian museum ini langkah strategis dalam menyajikan rekam jejak peradaban Provinsi Jambi secara menyeluruh. Hal ini dirasa penting, mengingat luasnya area kompleks percandian yang sebagian besar belum tergali.
"Ini rahmat luar biasa. Kita sudah lama memiliki Candi Muaro Jambi, tapi di dalamnya banyak yang belum kita buka. Sejarahnya belum terlihat semua. Museum ini diharap menjadi miniatur sejarah lampau yang merekam jejak peradaban,” ujarnya.
Baca Juga: Pemprov Diminta Cepat Perbaiki Jalan Putus Depan Kodim
Menurut Al Haris, museum ini adalah miniatur sejarah masa lampau, mulai dari perdaban Budha, hingga Islam sampai saat ini. Museum tidak hanya tontonan, tapi juga menjadi kenangan serta objek penelitian dan pendidikan.
Pemprov Jambi menyatakan siap memperkuat sarana penunjang, termasuk peningkatan status Bandar Udara Sultan Thaha Bandara menjadi bandara internasional. Langkah ini diambil untuk mempermudah akses wisatawan, akademisi, hingga para rohaniawan dari berbagai negara.
Baca Juga: Al Haris Lantik Pengurus HMPM Padang
“Manfaatkan museum secara maksimal. Kami sudah mengusulkan ke Menteri Perhubungan menaikkan status bandara Jambi. Kami berharap para Bhante dan Biksu yang datang ke Jambi dari Thailand, China, India, langsung dari daerahnya,” jelas Al Haris.
Pemprov Jambi menargetkan kawasan Candi Muaro Jambi ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Penambahan status internasional ini melengkapi keberadaan Geopark Merangin yang telah lebih dulu diakui dunia.
“Ini marwah. Kita sudah punya satu warisan dunia UNESCO, yaitu Geopark Merangin,” ungkap Al Haris.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menegaskan bahwa Museum Sriwijaya Dharmakirti dirancang khusus untuk menjadi laboratorium riset multidisiplin. Fasilitas ini disiapkan menjadi pusat interaksi pengetahuan lokal dengan wacana kebudayaan tingkat global.
"Mari kita jadikan museum ini jembatan antara ingatan masa lalu dan rancangan masa depan, antara pengetahuan lokal dan percakapan global, serta antara perlindungan warisan budaya dan pemanfaatan untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.
Fadli Zon mendorong terbangunnya koordinasi erat antara pemerintah daerah, akademisi perguruan tinggi, dan sektor swasta, demi memajukan cagar budaya.
“Pengembangan penelitian di kawasan museum dilakukan melalui berbagai disiplin ilmu, seperti arkeologi, sejarah, konservasi, siklus, sumber daya air (hidrologi), bahasa, digitalisasi, serta kajian ekonomi budaya,” ungkapnya.
Fadli Zon menjelaskan, penataan kawasan cagar budaya memerlukan proses bertahap serta pembinaan ekosistem terpadu. Kesiapan SDM dan keterlibatan aktif masyarakat lokal kunci utama kesuksesan, seperti di kompleks Borobudur dan Prambanan.
“SDM perlu disiapkan agar bermanfaat bagi masyarakat, seperti Borobudur. Borobudur sekarang sudah ada kawasan pasarnya, untuk meningkatkan hidup masyarakat dari berbagai macam festival. Di Prambanan juga begitu,” jelasnya.
Ke depannya museum ini diproyeksikan sebagai kantong budaya yang meriah melalui penyelenggaraan beragam atraksi festival seni secara rutin. Area museum juga dilengkapi perpustakaan, etalase warisan budaya takbenda.
"Perbanyak festival budaya diselenggarakan. Di sini juga ada perpustakaan, nanti mungkin ada etalase bagi warisan budaya tak benda, khususnya kuliner dan souvenir, merchandise ada imersif tentang uang Jambi,” saran Fadli Zon.
Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan menguraikan proses revitalisasi kawasan ini yang telah bergulir konsisten sejak 2022. Pembangunan fisik museum di lahan seluas 29 hektar masuk dalam zona pengembangan khusus KCBN.
“Sebelum konstruksi dimulai, tim terlebih dahulu melakukan uji tanah arkeologi untuk memastikan area pembangunan tidak menindih, atau merusak struktur yang tertinggal dalam cagar budaya di bawah tanah,” papar Restu. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com