Rusia dan Ukraina Perang, Harga Tempe dan Tahu Bisa Naik.

| Editor: Mursyid Sonsang
Rusia dan Ukraina Perang, Harga Tempe dan Tahu Bisa Naik.

Oleh : Lina Marliana, S.Si


Perang Ukraina dengan Rusia dapat mengganggu pasokan gandum ke Indonesia. Membuat harga gandum mengalami kenaikan serta akan mengalami kelangkaan pasokan gandum


Gandum (Triticum spp.) merupakan sekolompok tanaman serealia dari suku padi-padian yang kaya akan karbohidrat. Gandum biasanya digunakan untuk memproduksi tepung terigu, pakan ternak ataupun difermentasi untuk menghasilkan alkohol.


Data dari Badan Pusat Statistik impor biji gandum tanpa cangkang (Wheat grain without husk) dengan kode HS 10019912, Ukraina mengekspor gandum ke Indonesia sepanjang 2021 sebanyak 2 juta ton lebih. Atau setara 624,65 juta US$. Hampir 23 persen kebutuhan gandum di peroleh dari negara Ukraina. Sedangkan negara Rusia juga mengekspor gandum ke Indonesia dengan kode HS 10019919 dengan total 824 ribu US$.

Baca Juga: Rusia Menarik Diri dari Keanggotaan Mahkamah Pidana Internasional


Jika benar harga tepung terigu naik maka para pedagang kecil akan terdampak. Apalagi pedangan gorengan, yang mana harga minyak goreng sudah naik dan langka, kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe sudah naik dan di kawatirkan harga tepung terigu juga ikut naik. dan akan membuat pedagang kecil akan menutup usaha nya karena harga modal yang tinggi di kawatirkan sepi pembeli dan mengalami kerugian.


Pemerintah dan pengusaha besar harus duduk bersama mencari solusi pasokan gandum dan mencari alternative lain jika pasokan gandum benar-benar terganggu.


Sebenernya produk tepung lokal yang ada di Indonesia bisa menjadi alternative. Hanya saja belum populernya tepung lokal dan belum maksimalnya produksi tepung lokal dalam memenuhi pangan di Indonesia. Sehingga masyarakat masih lebih menggunakan tepung terigu yang berbahan gandum.


Singkong / Ubi kayu
Tepung mocaf yang berbahan dari singkong merupakan alternative pengganti tepung terigu. Potensi dari tepung mocaf cukup tinggi untuk di kembangkan produksi nya. Menggingat tanah yang ada cukup baik untuk tanaman singkong di negara Indonesia.


Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Suwandi, pada tahun 2019 jumlah produksi ubi kayu mencapai 16,35 juta ton dari luas panen 0,63 juta hektare. Dengan jumlah produksi yang sebanyak itu harusnya Indonesia bisa mengembangkan tepung mocaf sebagai pengganti tepung terigu berbahan gandum. Sehingga tidak ketergantungan dari luar negeri.


Keunggulan tepung lokal mocaf banyak diantara nya :
Mengandung kalsium, fosfor, dan serat yang lebih tinggi daripada tepung terigu.


Kaya vitamin C
Mengandung fitoestrogen, suatu hormon yang berfungsi untuk mencegah menopause dini yang biasa tejadi pada kaum wanita.


Warna Lebih Putih.
Aroma singkong hilang (tidak ada aroma tape), Tekstur lebih halus, Elastisitas meningkat,
Lebih mengembang saat digunakan sebagai bahan baku pembuatan olahan kue.


Hilangnya rasa pahit yang kadang muncul pada singkong.
Rendah gula, aman dikonsumsi oleh semua orang
Cocok bagi penderita diabetes, autis dan celiac disease.


Tepung Mocaf bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk tepung gorengan, membuat bubur, membuat aneka kue seperti donat, brownies, kue bolu, kue kering, dsb. Dengan keunggulan tepung mocaf yang luar biasa ini, bisa digunakan juga untuk makanan tambahan bagi bayi, campuran pembuatan roti, dan bahan dasar mie.


Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbesar ke empat dan ini masih bisa di tingkatkan menjadi nomor satu dunia. Asalkan pemerintah mengembangkan lahan pertanian singkong dan memberi kepastian harga di tingkat petani yang baik. Sehingga para petani singkong mendapat kesejahteraan.


Sebagai negara agraris yang cukup luas harus nya potensi dari singkong terus di kembangkan. Dan bekerja sama dengan peneliti agar mampu mengembangkan teknologi untuk penanaman singkong hingga pengolahan bahan pangan dari singkong.


Ketergantungan impor akan dapat membunuh para petani singkong dan membuat tepung lokal tidak akan diminati oleh masyarakat. ( Penulis Staf BPS Kabupaten Tebo)















IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait

Berita Lainnya