Menurut Hardian, penguatan budaya keselamatan tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan dan sistem. Lebih dari itu, perusahaan perlu mengetahui sejauh mana budaya keselamatan telah tumbuh di dalam organisasi.
Ia menyebut terdapat sejumlah tingkatan dalam budaya keselamatan, mulai dari pathological, reactive, calculative, proactive, hingga generative. Melalui pemahaman tersebut, setiap individu maupun organisasi dapat melakukan refleksi terhadap posisi budaya keselamatan yang telah dibangun.
Baca Juga: SKK Migas – PetroChina Raih CSR Award 2016
“Kalau kita lihat dari ciri-cirinya, PetroChina sudah berada pada level proactive karena sistemnya sudah established dan komitmen manajemen juga sudah ada. Tetapi kita masih terus berupaya agar budaya keselamatan ini semakin kuat,” jelasnya.
Sementara pada hari kedua, materi workshop akan diarahkan pada Human Factor, Ergonomic, dan Artificial Intelligence (AI).
Hardian menilai pemahaman terhadap faktor manusia dan ergonomi sangat penting karena kondisi kerja di lapangan dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, posisi kerja, maupun lingkungan tempat pekerja menjalankan tugasnya.
Baca Juga: Wagub Harap Kerjasama dengan SKK Migas Semakin Baik
Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti duduk terlalu lama dengan posisi yang tidak tepat dapat menimbulkan keluhan fisik. Begitu pula pekerjaan lapangan, seperti pengoperasian valve dengan posisi yang kurang ergonomis, berpotensi menyebabkan cedera pada tangan maupun punggung.
“Hal-hal seperti itu kadang kita tidak sadari. Padahal ergonomi sangat berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan pekerja,” katanya.
Baca Juga: 500 Anak SD se-Tanjabtim Dapat Lagi Bantuan PetroChina
Terkait pemanfaatan AI, Hardian mengatakan teknologi tersebut memiliki peluang untuk mendukung pengawasan keselamatan di lapangan. Salah satunya melalui sistem pemantauan yang dapat membantu mengidentifikasi apakah aktivitas pekerja telah sesuai dengan ketentuan keselamatan.
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com