Ia menekankan, tujuan akhir dari program tersebut bukan sekadar memberikan bantuan secara berkelanjutan, melainkan menciptakan masyarakat yang mampu mandiri.
“Harapannya tidak terus-terusan diberikan bantuan. Mereka bisa mandiri. Kecil, kecil, kecil, lama-lama menjadi besar,” katanya.
Baca Juga: SKK Migas – PetroChina Raih CSR Award 2016
Ia juga berharap keberhasilan kelompok penerima manfaat dapat ditularkan kepada masyarakat sekitar sehingga manfaat program berkembang dan tidak berhenti pada satu kelompok saja.
Dalam kesempatan tersebut, Nur Muflich turut menjelaskan berbagai program bantuan BPBAT Sungai Gelam sepanjang 2026.
Baca Juga: Wagub Harap Kerjasama dengan SKK Migas Semakin Baik
Menurutnya, bantuan yang diberikan antara lain berupa benih, calon induk, sarana budidaya sistem bioflok, mesin dan bahan baku pakan ikan.
Wilayah kerja BPBAT Sungai Gelam mencakup kawasan Sumatera, mulai dari Aceh hingga Lampung.
Baca Juga: 500 Anak SD se-Tanjabtim Dapat Lagi Bantuan PetroChina
“Produksi utama kami adalah benih dan calon induk. Tahun ini sampai September kami sudah mendistribusikan sekitar 6,7 juta ekor benih berbagai jenis,” jelasnya.
Benih yang didistribusikan meliputi ikan lele, nila, patin, mas dan gurami. Selain benih, BPBAT Sungai Gelam juga telah menyalurkan sekitar 10 ribu ekor calon induk kepada kelompok penerima yang memenuhi persyaratan administrasi dan teknis.
Ia menegaskan, bantuan tersebut ditujukan kepada kelompok, bukan perorangan. Kelompok penerima dapat berasal dari kelompok pembudidaya ikan, lembaga keagamaan maupun lembaga pendidikan sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan petunjuk teknis.
Sementara itu, Humas BPBAT Sungai Gelam, Firman Hidayat, mengatakan pelatihan kali ini berfokus pada empat komoditas utama, yakni ikan nila, patin, lele dan gurami. Namun, pelatihan tidak hanya membahas teknik pembenihan dan pembesaran ikan.
“Tidak berhenti hanya di sisi budidayanya. Kita bekali juga dengan pembuatan pakan mandiri dan manajemen penyakit ikan,” katanya.
Firman menjelaskan, selama pelatihan peserta akan mendapatkan materi teori sekaligus praktik langsung di lapangan.
Materi praktik antara lain pemijahan ikan, penyuntikan induk ikan lele dan patin, pemijahan ikan nila dan gurami, serta pembuatan pakan mandiri yang dapat diterapkan oleh pembudidaya skala kecil.
“Besok kita sudah mulai praktik pemijahan, termasuk penyuntikan ikan yang dilakukan pada malam hari untuk ikan lele dan patin,” jelasnya.
Pada hari berikutnya, peserta akan melakukan praktik pemijahan ikan nila dan gurami yang kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan pakan mandiri menggunakan peralatan yang dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan, termasuk mahasiswa, siswa SMK Perikanan serta masyarakat.
Firman menyebutkan, sejumlah peserta berasal dari Universitas Riau (UNRI), Universitas Sriwijaya (UNSRI), serta SMK Perikanan dari Jambi, Riau dan Sumatera Selatan.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan peserta tidak hanya memahami teori budidaya ikan, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
Program ini sekaligus diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian masyarakat melalui sektor perikanan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta membuka peluang pengembangan usaha budidaya ikan secara berkelanjutan. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com