"Ini teknik political storytelling yang klasik. Jatuh, memungut sendiri, difoto dari angle low, narasi orang yang dizalimi tapi tetap sabar dan sederhana. Itu persis seperti narasi baju putih, celana hitam, sepatu Rp 150 ribu di tahun 2014. Sederhana, terzalimi, merakyat," ujar Hendri, Rabu (5/11).
Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti. Menurutnya, ada orkestrasi distribusi foto yang terstruktur.
"Coba lihat polanya, dalam hitungan menit foto yang sama muncul di puluhan akun dengan caption hampir sama: 'kasihan', 'sederhana', 'dizalimi'. Ini bukan organik. Ini kerja buzzer yang memang disiapkan untuk membangun gelombang simpati. Targetnya jelas, mengaburkan substansi hukum soal keaslian ijazah menjadi drama personal," kata Ray.
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com