Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Area Batanghari dan Tebo

PROKLAMASI Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, di seluruh pelosok nusantara, disambut gegap gempita.

Reporter: _ | Editor: Syafruddin D
Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Area Batanghari dan Tebo
Pejuang Jambi, Husin Saad (kiri) dan A Nasrun (kanan) | foto : ist

Memang pasukan Sayang Terbuang terkenal keberaniannya, seolah-olah perang ini hanya permainan saja bagi mereka, meski menantang maut. 

Mungkin karena sikap komandan Letnan Muda Aziz Larose yang murah senyum saat menghadapi kesulitan, selalu tabah, sehingga anak buahnya demikian juga. Biarpun 3 hari tidak makan tapi di front dia masih tetap tersenyum.

Disamping peristiwa menegangkan, ada juga lucunya. Suatu ketika Sersan Harun dan Kopral Dolah Gilo sudah beberapa hari tidak mandi, lalu pergi ke sungai dengan hanya pakaian dalam saja (kolor), namun senjata tetap di tangan. Maklumlah rawan bertemu musuh. 

Tiba-tiba dari seberang sungai muncul serdadu Belanda. Untung saja Belanda tidak mengira yang mandi itu tentara RI. Lalu dengan gugup kedua pejuang ini cepat-cepat naik dengan merayap hanya berpakaian dalam saja. Akhirnya mereka ditertawakan penduduk yang melihat.

Begitulah keadaan yang serba darurat, namun perang gerilya berjalan terus hingga disepakati perjanjian Renville dan gencatan senjata.

Pada November 1949, Belanda melanggar perjanjian dengan memasuki wilayah republik menggunakan 6 motor pompong dan kapal “Juliana” berkekuatan 500 orang pasukan, untuk menjajah kembali Indonesia. 

Dengan taktik bumi hangus, para pejuang melakukan pembakaran gudang makanan, kantor camat, kantor pasirah, semua dibakar. 

Pasukan Belanda tidak berani mendekat. Jam 17.00 barulah Belanda mendarat dengan mengerahkan seluruh pasukan, tapi mereka tidak mendapatkan apa apa, karena pasukan kita sudah mundur ke belakang Dusun Sungai Bengkal, kemudian Sialang Tenggeris, Sungai Aro.

Pasukan menunggu di seberang Sungai Batanghari. Belanda akhirnya pindah ke Muara Tebo selama 1 bulan. Sementara di Den Haag, Belanda, tercapai lagi kesepakatan KMB (Konferensi Meja Bundar) bahwa Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Di Sungai Bengkal diadakan pertemuan Tentara Republik Indonesia dengan misi militer Belanda yang bertempat di muka rumah mandor Berahim Kemantan. Bendera merah-putih berkibar di tiap rumah, pinggir sungai dan jalan yang dilalui. ***

Sumber : naskah Ramli Ibrahim dan beberapa catatan anggota eks pasukan Sayang Terbuang, serta sejarah perjuangan Jambi 1945 - 1949.

Baca Juga: Lomba Gerak Jalan Meriahkan HUT 77 Kemerdekaan RI di Sarolangun

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait

Berita Lainnya