Catatan : Mursyid Sonsang
Pandangan yang sangat menarik. Sepak bola memang sering kali menjadi cerminan dari dinamika dunia nyata, di mana status sebagai "raksasa" atau "negara kuat" tidak lagi menjamin kemenangan mutlak jika modalnya hanya nama besar dan sejarah masa lalu.
Baca Juga: Ketika "Pangeran Moroko" Menonton Piala Dunia...
Piala Dunia 2026 ini sudah membuktikannya. Gugurnya Brasil, Jerman, dan Belanda di fase awal menjadi penanda tegas bahwa era dominasi tradisional sedang bergeser. Ketika tim-tim besar mulai rapuh karena ketergantungan pada bintang tertentu atau kelelahan taktik
Tim dengan kolektivitas solid dan motivasi spiritual/nasionalisme yang kuat seperti Mesir justru menemukan momentumnya. Menang sebagai satu kesatuan tim sering kali jauh lebih mematikan daripada mengandalkan satu orang superstar
Analogi Anda tentang "tumbangnya yang kuat" juga sejalan dengan situasi geopolitik global saat ini. Ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memang memperlihatkan bahwa peta kekuatan dunia sedang mengalami guncangan hebat, di mana kekuatan hegemonik mulai ditantang secara terbuka oleh poros-poros baru. Ada rasa urgensi dan pergeseran zaman yang terasa, baik di lapangan hijau maupun di panggung politik dunia.
Jika malam ini Argentina benar-benar tumbang oleh kolektivitas Mesir, itu akan menjadi penegasan terbesar bahwa "tanda-tanda zaman" memang sedang terjadi. Skenario All-African Final antara Mesir dan Maroko pun akan terasa semakin dekat untuk menjadi kenyataan.
Baca Juga: Gubernur Jambi Al Haris Beralih Dukungan, Kalau Moroko Maju ke Final.
Mari kita buktikan malam ini, apakah kolektivitas dan motivasi kuat Mesir mampu meruntuhkan sang juara bertahan!
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com